Agustus 14, 2019

Mengenang 102 Tahun Letkol dr Soebandi : Sang Dokter Gerilyawan



Mendiang Letkol. dr Soebandi, Jabatan Terakhir Residen Militer Besuki dan dokter pada Brigade Dhamarwulan

Pengantar
LETKOL dr. RM. Soebandi adalah dokter militer kelahiran Klakah, Lumajang pada 17 Agustus 1917 itu begitu melekat dengan masyarakat Jember. Ia gugur dalam sebuah pertempuran dengan tentara Belanda di sebuah desa di tepi hutan. Ada kisah penuh heroik sebelum peluru menembus tubuhnya. Sebagai bentuk penghargaan diabadikanlah namanya menjadi nama rumah sakit daerah¸ institusi sekolah kesehatan bahkan sampai nama jalan. Dalam mengenang 70 gugurnya dokter pejuang tersebut kisah hidupnya yang tidak banyak diketahui orang tersebut dituangkan dalam biografi berjudul : Letkol dr. RM. Soebandi : Jejak Kepahlawanan Dokter Pejuang” yang ditulis oleh Gandhi Wasono M. dan Priyo Suwarno.

Langit Desa Karang Kedawung, Kecamatan Mumbulsari, Jember, pada Selasa 8 Februari 1949 dini hari itu terlihat cerah. Udara sejuk dan sesekali berhembus angin tipis, membuat warga desa yang berada di tepi hutan dan perkebunan kopi makin terlelap dalam buaian mimpi.
Di tengah remang sepi, yang terdengar hanyalah suara mengerik belalang gegirik dari sela-sela rerimbunan pohon bambu. Dan sesekali terdengar kepak sayap burung hantu beterbangan.
Nyaris seluruh warga desa yang berjarak sekitar 20 km dari jantung kota Jember terlelap, termasuk Arsiman dan keluarganya setelah letih seharian menjadi buruh kasar di tegalan. Biasanya, usai salat Isya Arsiman masih bercengkerama dengan anak menantunya, namun malam itu kantuk datang lebih cepat. Tubuh mereka ingin segera direbahkan.
            Namun, keheningan dini hari itu mendadak pecah.  Sekitar pukul 03.00, terdengar derap langkah sepatu lars dari kaki banyak orang. Semula terdengar sayup-sayup, tetapi  makin lama makin keras menyeruak ke dalam rumah berdinding gedek dan beratap rumbai daun kering itu.  Suara makin riuh orang bercakap-cakap. Tepat di depan rumah, suara langkah berhenti. Lantas terdengar brug… brug…brug… seperti menjatuhkan barang ke tanah.  Dari percakapan yang terdengar menerobos dinding rumah suara itu terdengar nada keluh kelelahan.
            Kehadiran suara yang tidak biasa itu membuat Arsiman dan keluarganya terbangun ketakutan. Meski sudah membuka mata, Arsiman tidak berani langsung beranjak. Biasanya kala dini hari tiba, yang terdengar suara penjual kayu dan daun jati, berjalan beriringan menuju Pasar Tanjung lewat di belakang rumah. Namun, malam itu jelas bukan suara mereka.

Dua kakak beradik Misjeni (kiri) dan Srinen (kanan), dua saksi hidup warga Karang Kedawung,Jember di rumah orang tua mereka mendiang Lektol. Sroedji dan Letkol. dr Soebandi menginap, sebelum kedua pahlawan itu tewas diberondong oleh peluru Belanda.



LETIH DAN LAPAR
            Rasa takut dan penasaran berkecamuk jadi satu. Arsiman lalu minta istrinya Miryani dan anaknya tetap di amben, sementara ia mencoba melihat ke luar rumah. Sejenak menghela napas, ia berdiri dan berjalan mengendap-endap. Ada perasaan waswas saat ia membuka pintu dari bambu. “Karena baru pertama kali di pagi buta mendengar suara banyak orang berkerumun seperti itu,” kisah Srinem dalam biografi yang diterbitkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jember dan dilaunching pada 9 Februari 2019 oleh keluarga bekerjasama dengan Pemda Jember tersebut.
            Begitu pintu rumah terbuka, keluarganya jadi lega. Rasa khawatir perlahan sirna.  Ternyata, yang ada di luar adalah rombongan pasukan tentara Indonesia. Srinem mendengar ayahnya membalas ucapan salam dari mereka.
            Srinem bergegas berdiri menyusul, ibunya turun dari amben. Temaram sinar lentera di teras rumah membantu Srinem mengetahui siapa saja yang ada di sekitarnya. Ia menyaksikan seratus lebih tentara Indonesia datang. Mereka menyebar ke sekitar rumah dan kediaman warga lainnya. “Ada tentara yang menuju rumah tetangga. Sebagian merebahkan diri di hamparan tanah kosong di bawah rerimbunan pohon, ada juga yang duduk diam termangu.  Mereka tampak lesu,” kata Srinem kendati usiannya 80-an tahun namun ingatannya masih tajam dan nada bicaranya dalam bahasa madura masih lantang penuh tenaga.
            Srinem mendengar percakapan ayahnya dengan tentara itu. Intinya mereka ingin istirahat karena kecapekan. Selain lesu mereka juga lapar dan haus. Bekal makanan sudah habis setelah puluhan hari menempuh perjalanan jauh melewati hutan dan gunung untuk menghindar dari pantauan pasukan Belanda. 
            Mereka adalah gerilyawan Brigade Damarwulan dalam perjalanan dari Blitar menuju Desa Socopangepok di lereng Gunung Argopuro. Pasukan tersebut semula berada di Blitar, namun pada tanggal 19 Desember 1948 atas perintah Jenderal Soedirman, diminta kembali ke Besuki untuk melakukan perang gerilya setelah Belanda mengingkari isi perjanjian Renville.
            “Saya tidak bisa melupakan peristiwa itu! Saya ingat sekali karena seumur hidup baru kali itu mengalami. Kala itu saya sepantar anak kelas 4 SD atau sekitar 10-11 tahun,” kata Srinem yang didampingi kakaknya Misjeni yang sampai saat ini masih bertempat tinggal di rumah yang menjadi saksi sejarah tersebut.
            Arsiman semakin paham mereka adalah tentara Indonesia yang butuh bantuan. Warga masyarakat sekitar pun terbangun di pagi buta itu. Mereka bergabung untuk saling bahu membahu membantu menyiapkan tempat dan makanan untuk mereka.
            Ketiga kakak Srinem yaitu Jumanten, Setoni, dan Misjeni beserta suaminya juga ikut bergabung untuk menyiapkan makanan prajurit.  Ran, suami Misjeni yang tuna wicara, juga tak ketinggalan ikut membantu.




NASI JAGUNG DAN SAYUR URAP
 “Sebagian besar masyarakat desa ini kondisinya sangat miskin. Tapi, melihat keadaan para pejuang, hati kami terketuk untuk membantu meski dengan menyediakan makanan seadanya,” sahut  Misjeni yang sejak 10 tahun belakangan ini tidak bisa melihat namun ingatan jangka panjangnya sangat bagus.
            Menurut Srinem, dari sekian banyak tentara, dua di antaranya kemudian masuk ke rumahnya.  Belakangan dia mengetahui bahwa mereka berdua adalah komandan pasukan Letkol Moch. Sroedji dan Letkol dr. RM. Soebandi, menjabat residen militer merangkap dokter militer.  “Pak Sroedji dan Pak Soebandi masuk ke rumah, sedang anak buahnya di pelataran dan di rumah tetangga,” papar Srinem.
            Karena tidak punya lauk, Srinem diminta ibunya memetik kacang panjang dan daun lembayung di halaman rumah.  Selanjutnya, Srinem sibuk memarut kelapa untuk bumbu urap.  Jadilah, nasi jagung lauk urap untuk menu makan sang komandan dan pasukannya.
            Sementara  pagi itu, Misjeni membuatkan masakan yang agak “istimewa” untuk dr. Soebandi.  Ada tambahan menu tempe goreng ditambah sambal terasi. “Sambil menunggu menanak jagung, saya goreng lagi tempe sisa kemarin,” tutur Misjeni yang saat itu rumahnya bersebelahan dengan Arsiman.
            Sroedji dan Soebandi tampak begitu letih. Sambil rebahan di atas tikar, mereka mengeluh tubuhnya sakit. Perjalanan panjang menyisir hutan dengan medan berat melewati tanjakan dan turunan membuat punggung dan paha kanan terasa sakit. Kondisi Soebandi tidak separah Sroedji, ia hanya merasa sangat letih.
Arsiman tanggap. Ia segera memanggil istrinya yang memanggil ahli urut dan dukun bayi untuk memijat Sroedji, sedang Soebandi dipijat Bu Putiah, tetangga sebelah rumah yang  juga dikenal sebagai tukang pijat.
            Meski peristiwa itu sudah 70 tahun berlalu, Srinem masih mampu mendeskripsikan sosok Soebandi. Ia menyebutkan secara fisik Soebandi berwajah tampan. Selain berkulit bersih, hidung mancung, dengan sorot mata tajam dan bertubuh tegap. Satu lagi, Srinem mengenal Soebandi sebagai lelaki pendiam. Pembawaannya tenang dan sesekali tersenyum dengan lawan bicara, namun begitu berbicara nadanya terdengar tegas berwibawa.
    Menikah dengan Rr Soekesi, Letkol. dr Soebandi punya tiga anak perempuan. Sulung (kiri)                bernama Widyasmani, Widorini (bungsu) dan Widyastuti putri kedua di posisi paling kanan.

            TEMBAKAN
Waktu terus berjalan. Di ufuk timur matahari belum beranjak. Namun, bias sinar memerah sudah menyeruak di antara pepohonan. Suara kokok ayam serta kicau burung yang bertengger di ranting ramai menyeruak ke angkasa. 
Srinem sibuk membantu ibunya yang sudah selesai memasak. Dengan entong kayu ia  menuangkan nasi jagung panas di atas pincuk daun pisang. Lauknya urap dari kacang panjang dan daun lembayung.
Meski dengan menu nasi jagung dan sayur urap, mereka menyantap hidangan itu dengan lahap. Dengan tangan telanjang mereka terlihat bersemangat muluk nasi jagung. Dari roman mukanya, terlihat nikmat sekali mereka menyantap menu sederhana itu.
Demikian pula Soebandi, selain nasi jagung ada sedikit tambahan sepotong tempe goreng kecil dan sambal terasi dengan air minum tersaji di dalam kendi. Kepada Misjeni yang menyajikan makanan, Soebandi mengucapkan terima kasih. Dengan senyum dia menepuk pundak Misjeni. “Terima kasih, ya, sudah menyiapkan makan untuk saya dan teman-teman. Kamu baik dan rajin,” puji Soebandi.
Namun suasana tiba-tiba berubah. Disaat mereka lahap menyantap makanan, tiba-tiba dari arah timur laut, terdengar rentetan bunyi senjata. Dor... dor... dor!
Rentetan senjata itu ternyata datang dari tantara Belanda yang sudah mengetahui posisi para gerilyawan. Dengan nasi pincuk masih di tangan, mereka kontan melompat, berdiri, dan berlari ke depan rumah. “Ambil senjata dan cepat lari!” teriak keduannya dengan kencang memerintahkan anak buahnya di luar.
Para gerilywan tunggang-langgang lari ke arah barat menuju hutan. Setelah melewati jalan menurun di belakang rumah Srinem, pasukan melintas sungai, melalui sawah dan tegalan, ke arah kebun kopi.
Suara gedebukan kaki pejuang berpacu dengan hujan peluru. Sesekali para pejuang melakukan tembakan balasan. Tapi, serangan ini tak sebanding dengan kekuatan lawan.  Sroedji dan Soebandi tidak langsung menyelamatkan diri, keduannya justru lebih dahulu mengamankan warga. “Ayo, segera masuk rumah dan tiarap,” teriak Sroedji dan Soebandi. Suara mereka bersahutan dengan desing peluru yang terus menyalak.
Setelah itu Soebandi bergegas kembali masuk ke rumah Arsiman. Dengan wajah tegang, ia memberi aba-aba yang sama:  segera tiarap di kolong amben.
Desing peluru terus membabi-buta.  Sebagai komandan, Sobandi memperlihatkan ketenangannya. Bahkan Soebandi, masih sempat memandu Misjeni bagaimana cara tiarap yang benar. “Kalau tiarap kakinya jangan ditekuk,” ucap Soebandi setengah berteriak.
Setelah merasa keluarga Arsiman dan warga aman, barulah Sroedji dan Soebandi meninggalkan rumah, menyusul anak buahnya.  Srinem memberikan kesaksian menarik di detik-detik dua pemimpin itu meninggalkan rumahnya. Sebelum keluar rumah, Sroedji dan Soebandi masih sempat membungkus sisa nasi yang ada dalam pincuk dan membawanya pergi. “Sepertinya itu bentuk penghargaan mereka pada kami atas jerih payah keluarga menyiapkan makanan,” ujar Srinem yang  bisa menceritakan secara detil saat-saat menegangkan teresebut.
            Setelah keduanya lari, Srinem maupun Misjeni tak tahu keadaan di luar rumah. Yang pasti, itulah suasana pagi yang paling mencekam dalam hidupnya. Sepanjang suara tembakan masih menyalak, keluarga Arsiman tak berani beringsut sedikit pun dari kolong amben. Suara wing…wing..wing ..suara desingan peluru itu berulang kali menembus dinding gedeg dan melintas di atas tubuhnya. Mereka merasakan batas antara kehidupan dan kematian sangat tipis. Hanya pekik takbir yang bisa dilakukan.
Srinem memperkirakan sekitar satu jam kemudian suara tembakan baru reda. “Sungguh saya tidak bisa melupakan kejadian itu, sangat mengerikan,” kata Srinem yang saat ini mewarisi profesi ibunya sebagai tukang pijat di kampung.


Bupati Jember dr Faida didamingi dr Widorini (putri bungsu mendiang Letkol. dr Soebandi) saat peluncuran buku mengenang 70 tahun wafatnya dr Soebandi di Jember, 9 Februari 2019.

JASAD BERDAMPINGAN
            Setelah diperkirakan aman, mereka keluar dari kolong amben. Arsiman langsung keluar rumah bergabung dengan warga. Namun baru sekian menit kemudian, dengan langkah tergesa-gesa Arsiman kembali ke rumah. Di depan rumah ia menyampaikan kabar duka. Getar suaranya setengah berteriak, lebih mirip raung kesedihan.  “Pak Bandi dan Pak Sroedji bersama anak buahnya meninggal tertembak!”
            Sontak Miryani dan anak-anaknya langsung menjerit bersama. Mereka seolah tak percaya mendengar kabar duka tersebut. Jantung mereka seolah berhenti berdetak. Alam pun mendadak sunyi. Kabar kematian itu membetot emosi.  
            Arsiman tak bisa menahan emosinya yang membuncah. Dengan berurai air mata ia menceritakan bahwa jasad Soebandi dan Sroedji tergeletak bersebelahan, hanya berjarak sekitar 150 meter sebelah barat rumahnya. “Mereka tewas dengan luka tembak diatas pematang sawah,” ucap Arsiman, tak mampu melanjutkan ucapannya. Keluarga Srinem pun mendadak menangis bersama. “Kami tak mengira, nasi yang kami berikan itu adalah makanan terakhir sebelum meninggal,” kata Srinem menirukan Miryani mendiang ibunya dengan sesenggukan.
            Arsiman enggan terlalu lama larut dalam duka. Sambil mengusap air mata, ia meninggalkan rumah dan bergabung bersama warga lainnya untuk memakamkan belasan jasad para korban, baik tentara Indonesia maupun dari pihak Belanda. 
Srinem melanjutkan cerita ayahnya. Dengan segala keterbatasan, warga menguburkan belasan prajurit tentara Indonesia dan beberapa tantara Belanda dalam satu lubang besar.  Kecuali jasad dr. Soebandi, yang dimakam sendiri, sedang jasad Sroedji dibawa Belanda. Makam Soebandi berdekatan dengan sungai. Ketika dimasukkan liang lahat tetap menggunakan jaket yang dikenakan pagi hari, lengkap dengan barang-barang bawaannya. “Sebagai penanda, bapak menanam pohon jarak di bagian kepala dan kaki sebagai pengganti batu nisan,” kata nenek dengan beberapa orang cucu tersebut.

Gandi Wasono M (kiri) dan Priyo Suwarno (kanan) penulis sejarah perjuangan 
Letkol. dr. RM Soebandi

KEBERANIANNYA DILUAR BATAS
            Meski sudah berlalu 70 tahun yang lalu, tapi cerita gugurnya dr. Soebandi selalu membetot emosi. Syaiful Akbar (95), dalam buku biografi setebal 304 halaman, kakek yang tinggal di Desa Krajan, Mayang, Jember, tersebut bisa menceritakan secara detil kronologi tertembaknya Soebandi. Ia mengetahuinya dari anak buahnya yang merupakan seorang intelijen, yang saat itu berada di lokasi kejadian. “Saat itu saya sedang ditawan Belanda. Begitu keluar dari tahanan, anak buah saya yang lolos dari maut tersebut cerita semua kepada saya,” kata Syaiful Akbar ketika revolusi berdinas sebagai intelijen berpangkat pembantu letanan dua.
            Syaiful menceritakan saat itu kondisi pasukan Damarwulan memang sangat kepayahan setelah perjalanan ratusan kilo dan puluhan hari dari Blitar menuju Socopangepok, Bondowoso. Selama perjalanan itu, mereka sering crash dengan pasukan Belanda. Karena senjata dan personil tak seimbang, sehingga tantara Indonesia banyak jadi korban.
            Kepergian dr. Soebandi sendiri sangat dramatis. Ceritanya, setelah Belanda mendapat informasi dari mata-mata, kemudian dengan cepat mereka melakukan penyergapan. Kendati tengah dikepung namun keduannya tidak segera meninggalkan lokasi, tetapi tetap berusaha mengkomando masyarakat agar tak jadi korban.
            Sroedji berlari di depan kemudian Soebandi menyusul di belakangnya. Namun, kondisi kaki bengkak menyebabkan langkah Sroedji tak segesit Soebandi. Situasi menjadi genting tatkala dua tentara Belanda muncul dari arah utara. Mereka berhasil memepet Sroedji dan akan menembak dari jarak dekat.
            Ketika berada di ujung maut dengan cepat ia menghentikan langkahnya. Dengan gagah ia langsung mengangkat tangan sambil berteriak, “Jangan tembak! Saya Mochamad Sroedji.” Melihat Sroedji yang sudah mengangkat tangan, dua tentara Belanda batal menembak. Mereka menganggap Sroedji akan menyerahkan diri.  Padahal itu hanya taktik.
            Begitu Belanda mendekat mau meringkus, dengan gerakan secepat kilat tangan kanan lelaki berdarah Madura itu merogoh pistol di lengan kiri jaket. Dalam hitungan sepersekian detik moncong pistol mengarah ke tubuh pasukan Belanda dan langsung menyalak dor...dor...dor! Dua tentara Belanda yang menyergapnya langsung tersungkur. 
             Sekian detik setelah Sroedji menembak Belanda, beberapa kawannya tidak tinggal diam. Tubuh Sroedji diberondong peluru senjata laras panjang. Sroedji langsung tersungkur. Ternyata aksi Sroedji itu diketahui oleh Soebandi. Ia sudah berada di semak-semak. Namun, suara berondongan peluru membuatnya menghentikan pelariannya. Ia menengok ke belakang dan melihat sahabatnya jatuh tersungkur.
Soebandi langsung keluar dari rerimbunan tanaman palawija dan kembali berlari mendekat ke tubuh sahabatnya.  Ia sadar, kecil kemungkinan nyawanya akan selamat. Namun, ia tetap tak mau meninggalkan tubuh sahabatnya. Jiwa sebagai seorang pejuang, kecintaan pada seorang sahabat, sekaligus tugas seorang dokter di medan perang bercampur jadi satu. Semuanya mengikis rasa takut.
Begitu sampai, dengan emosi ia memeluk tubuh bersimbah darah itu dan berdiri membopongnya. Sepertinya nyawanya sudah tak tertolong. Ketika mengangkat tubuh Sroedji, salah satu pasukan Belanda tak tidak tinggal diam. Senjata menyalak, Soebandi pun tewas diberondong senapan. Ia tersungkur di sebelah jasad sahabatnya. 
            “Keberanian Soebandi sudah di luar batas. Padahal menurut teman-teman saya yang ikut dalam pertempuran itu, andai Pak Bandi mau melarikan diri dan meninggalkan jasad Pak Sroedji, hampir pasti dia akan selamat. Tapi rupanya bagi Soebandi, ia memilih mati syahid demi negara,” kata Syaiful yang pada 8 Januari 2019 lalu meninggal dunia di usia 95 tahun.

                            Patung dwi tunggal Letkol. Moch, Sroedji yang dipapah oleh Letkol.
                            dr.  Soebandi sesaat setelah diserang oleh pasukan Belada di Karang
                           Kedawung Jember, 8 Ferbruari 1949.

JAM TANGAN DAN ALAT KEDOKTERAN
            Bagai itik kehilangan induk, pasukan Damarwulan makin berat paska kehilangan dua orang pimpinannya. Yang tak kalah memilukan adalah nasib istri Soebandi. Rr. Soekesi, bersama tiga putrinya Widyasmani, Widyastuti dan Widorini yang saat itu masih balita, yang tidak tahu jika ayahnya sudah gugur.
            Dalam catatan harian Soekesi yang tertuang dalambiografi tersebut, terakhir kali ia bertemu suaminya tanggal 19 Desember 1948 di Blitar sebelum kembali bergerilya ke wilyaha Besuki atas perintah Jenderal Soedirman, akibat Belanda ingkar denga nisi perjanjian renville.
            Jauh-jauh Soekesi dan ketiga buah hatinya menyusul dari Jember ke Blitar dengan harapan agar lebih dekat dengan suaminya.         Tapi kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Baru sekitar 1,5 bulan dekat dengan suami, ada gejolak politik sehingga harus berpisah lagi.  “Kami sangat sedih tapi bagaimana lagi, semua ini demi negara.” Katanya.
            Sekitar 2 minggu kemudian, Soebandi dari lokasi gerilya di Kepanjen, Malang, sempat berkirim surat melalui kurir. “Tolong rawat anak-anak dengan baik, kalau Tuhan berkendak kita pasti akan bertemu lagi,” salah satu kalimat dalam surat Soebandi yang sekaligus menjadi surat terakhirnya.
            Setelah itu, Soekesi tak pernah lagi mendapat kabar tentang suminya sampai akhirnya Soekesi kembali ke tempatnya semula di Jember. Setahun lamanya ia tidak mendapat kabar, baru pada 23 Maret 1950, setelah Belanda hengkang dari Indonesia datanglah Kapten dr. Soegeng, teman Soebandi.
Dokter Soegeng mengabarkan bahwa sebenarnya suaminya sudah meninggal sejak setahun sebelumnya. Kedatangannya itu sekaligus mengabarkan bahwa jasad suaminya sudah diketemukan di Desa Karang Kedawung. “Kepergian Bapak itu merupakan pukulan batin yang sangat hebat. Karena kecintaan Ibu pada Bapak sangat besar, sampai tutup usia di usia 78 tahun Ibu memutuskan tidak mau menikah,” kata dr. Widorini, putri bungsu Soebandi.
            Dalam buku hariannya, Soekesi juga menulis bahwa untuk menemukan jasad suaminya tidaklah mudah, mengingat saat itu korban banyak berjatuhan di berbagai tempat. Sebelum dr. Soegeng, temannya yang lain yakni dr. Mahzar, juga mencari bahkan sudah melakukan penggalian kubur tetapi tidak berhasil.
Dokter Soegeng berhasil mengidentifikasi, dari gigi Soebandi yang agak gupil, serta di saku jaketnya juga diketemukan peralatan suntik, serta jam tangan yang dikenakan. Jam tangan tersebut saat ini disimpan di museum Brawijaya, Malang.
             Kenangan pahit Srinem dan keluarganya mencuat kembali. Begitu pihak pemerintah berhasil menemukan jejak, maka Arsiman yang diminta oleh pihak keamanan untuk menggali kubur untuk mengngkat jasad Soebandi. “Waktu penggalian itu saya juga melihat dari dekat.  Saya ingat persis, jasadnya Pak Bandi masih utuh. Dari dalam kantong yang dikeluarkan masih tersimpan perlatan suntik serta jam tangannya masih melekat di pergelangan tangan,” kisah Srinem.
            Setelah itu, beberapa tahun kemudian lokasi yang menjadi tempat pertempuran itu didirikan tugu hingga saat ini. “Meski hanya bertemu beberapa jam, tetapi ingatan saya pada Pak Bandi tak bisa terhapus. Kisah Pak Bandi sangat membekas,” ujar Srinem. (Gandhi Wasono M.)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM