Jumat, 19 Oktober 2018

Menikmati Perjalanan Darat ke Bali (1)


oleh : Andi Ar Evrai (jurnalis kabarkaltim.co.id)

Suasana pagi di Selat Gilimanuk
MELAKUKAN perjalanan dari Kota Balikpapan ke Pulau Bali yang tercepat menggunakan pesawat terbang, tapi perjalanan akan lebih berkesan kalau juga dilakukan melalui darat. Saya pun memulai perjalanan lewat bandara Sepinggan Balikpapan 17 Oktober 2018 malam dengan menggunakan maskapai swasta.

Tepat sekira pukul 23.00 WIB pesawat pun mendarat di bandara Djuanda Surabaya. Karena sejak awal saya sudah merencanakan perjalanan dari Surabaya ke Bali melalui darat, dari bandara Djuanda saya menggunakan bus Damri ke terminal Bungurasih.

Perjalanan kali ini memang cukup repot karena selain membawa ransel saya pun juga harus menggandeng anak perempuan saya paling kecil karena dia ngotot untuk tetap
ikut ke Bali. Maka dalam kondisi terkantuk-kantuk dia pun saya tuntun ke bus Damri. Begitu sampai di terminal Bungurasih, saya pun dengan segera menuju ke terminal bus luar kota.

Beruntunglah saya masih mendapatkan bus terakhir yang menuju ke Denpasar sebab pada 24.00 WIB bus yang menuju ke Denpasar sudah tidak ada. Setelah berada di atas bus, saya pun menyelesaikan pembayaran ongkos untuk berdua. Karena sudah tengah malam, saat bus mulai jalan, saya pun terlelap dalam tidur. Saat sedang lelap, tiba-tiba kernet membangunkan saya dan memberitahukan untuk turun makan di sebuah rumah makan di kawasan Situbondo.

Setelah istirahat selama 30 menit perjalanan pun dilanjutkan, saya pun tidak bisa melanjutkan tidur karena matahari sudah terbit. Rasanya sangat sayang melewatkan pemandangan yang begitu indah di Situbondo ini, hamparan sawah yang menghijau, perbukitan yang menjulang, pantai yang berombak belum lagi perkampungan penduduk yang tertata, membuat mata tidak bisa dipejamkan karena pemandangan seperti ini jarang ada di Kota Balikpapan.

Setelah beberapa saat bus pun merapat di pelabuhan Ketapang. Saya kagum dengan kondisi pelabuhan Ketapang yang kini sudah bersih dan tertata rapi, sangat cocok menjadi pelabuhan wisata. Selat Gilimanuk pagi itu sangat cerah dan cukup banyak penumpang kapal yang pagi itu bertolak ke Bali.

"Mau dipijat Pak?," tanya seorang bapak usia lanjut saat saya sedang menikmati pemandangan selat Gilimanuk. "Berapa bayarannya?," tanya saya. " lima puluh ribu saja Pak,". "Kemahalan Pak," jawab saya. "Baik pak untuk penglaris pagi cukup 30 ribu saja," jawab si bapak. Saya pun menerima tawaran untuk dipijat. Sungguh nikmat rasanya berada di atas kapal sambil menikmati pemandangan laut menyeruput segelas kopi panas dan dipijat pula,.amboi asyiiknya.

Hampir sejam di atas kapal, lalu merapat di pelabuhan Gilimanuk. Ternyata pihak pemerintah daerah Bali cukup ketat mengawasi pendatang sebab sebelum melanjutkan perjalanan para penumpang diperiksa dulu KTP-nya oleh petugas pemerintahan. Bagi yang kedapatan tidak memiliki KTP maka siap-siap saja mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut. Setelah diperiksa KTP maka perjalanan di Bali baru dimulai. Welcome to Bali. (*)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM