Rabu, 25 April 2018

Carut Marutnya Pertamina adalah Peninggalan Masa Lalu

Tak Adil jika Dirut Dicopot Hanya karena Tumpahan Minyak di Teluk Balikpapan 


catatan :  Advokat Ir Lusiano SH MSi (ahli manajemen proyek dan pemerhati proyek perminyakan di Kalimantan yang juga aktivis Dayak Borneo) 

Lusiano saat kunjungan kerjanya
CARUT  marutnya managemen dan kebijakan di internal BUMN kebanggaan bangsa "PT Pertamina", mengakibatkan langkanya BBM dan lambat serta terhambatnya proyek Pertamina. Seperti lambatnya proyek mengenai percepatan pembangunan dan perluasan kilang minyak dan pencarian sumber baru minyak. Termasuk pengalihan managemen anak-anak perusahaan dan kerjasama-kerjasama yang hanya menjadj benalu dan menjadikan Pertamina sebagai sapi perahan. 

Sesuai keinginan Presiden, ada 800-an anak dan cucu-cucu perusahaan BUMN yang kurang efektif dan tidak efisien, dijual saja, dibubarkan atau kembali fokus pada induk perusahaan. Di BUMN Pertamina, masalah ini banyak sekali peninggalan masa lalu dan Direktur Utama Pertamina masa sebelum Elli Massa Manik, juga masih banyak meninggalkan masalah di perminyakan Republik ini yang belum terselesaikan. 


Paling banyak carut marut perminyakan adalah peninggalan masa Orde Baru, dan itu masih banyak tersisa, belum tuntas yang menjadi benalu di Pertamina. Masalah carut marutnya Pertamina, ada sejak masa Orde Baru dan peninggalan masalah eks Direktur-direktur Utama Pertamina sebelum Elli Masa Manik. 

Jika masalah-masalah itu tidak mampu dituntaskan dalam masa jabatanya yang baru selama 1 tahun dan cenderung menghambat dan cenderung lambat, saya sependapat saja diganti alias dicopot atau dipecat. Tetapi jika masalah tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang menjadi salah satunya sebab Dirut Pertamina diganti, saya kurang tepat dan tidak sependapat. 

Apakah saat serah terima Dirut Pertamina ke masa jabatan Elli Masaa Manik diketahui kalau pipa bawah laut yang bocor itu sudah tidak aman? Yang bocor dan patahnya diakibatkan oleh tersangkut jangkar kapal atau tersangkut lintasan kapal dan patah karena kedalaman pemasangannya tidak memenuhi syarat. 

Sebaiknya hal itu jangan ditambahkan sebagai penyebab digantinya Dirut Pertamina maupun sanksi ke Managemen PT Pertamina RU V Balikpapan yang kebetulan tuan rumah terjadinya musibah, harus dipertimbangkan. 

Karena proyek pemasangan pipa bawah laut tersebut juga peninggalan managemen masa lalu di PT Pertamina RU V Balikpapan yang tersembunyi di bawah laut. Jika dikatakan tidak memenuhi syarat kedalaman maksimal pemasangan pipa bawah laut, saya rasa bukan beban managemen yang terbaru saat musibah terjadi. 

Kapan proyek tersebugt dibangun dan direncanakan dan dilaksanakan oleh siapa proyeknya?  Dan saat uji coba dan inspeksi kelayakan pakai dan opersasi di masa apa dan siapa? Ini juga merupakan tanggung jawab, tanggung renteng managemen masa lalu, kecuali oleh managemen lama ada hasil inspeksi atau sudah diperingatkan bahwa pipa bawah laut tersebut sudah tidak layak pakai/tidak layak operasi dan tidak aman, namun hal itu tidak diindahkan manajemen baru, pantaslah dipecat. Yang adil adalah melihat sebab akibatnya dan kebetulan kejadian di Teluk Balikpapan terjadinya di masa jabatan Dirut Pertamina yang baru 1 tahun dan General Manajer Pertamina RU V Balikpapan baru 1 tahun.(*)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM