Kamis, 22 Juni 2017

Sultan Johor: Stop Arabisasi!

"Jika ada di antara kalian yang ingin menjadi orang Arab dan mempraktikan budaya Arab, dan tidak berkeinginan mengikuti adat dan tradisi Malaysia kita, itu terserah Anda." ~ Sultan Johor ~

Sultan Johor
KABARKALTIM.CO.ID - Di tengah meningkatnya konservatisme di kalangan Muslim dan adopsi praktik kebudayaan Arab di Malaysia, Sultan Johor mengingatkan kepada warganya agar tetap mempertahankan budaya mereka dan jangan malah mengikuti budaya negeri orang lain.

Sultan Ibrahim Ibni Sultan Iskandar mengatakan bahwa dirinya lebih suka menggunakan bahasa Malaysia seperti “Hari Raya” dan “Buka Puasa” daripada menggunakan istilah Arab “Eid al-Fitr” dan “Iftar”.

“Jika ada di antara kalian yang ingin menjadi orang Arab dan mempraktikan budaya Arab, dan tidak berkeinginan mengikuti adat dan tradisi Malaysia kita, itu terserah Anda. Saya juga mempersilakan Anda untuk tinggal di Arab Saudi,” kata Sultan, Kamis (22/6/2017).
 
“Itu adalah hak Anda tapi saya percaya ada orang-orang Malaysia yang bangga atas kebudayaan Malaysia mereka. Paling tidak saya tidak pura-pura dan tidak hipokrit dan warga Johor tahu siapa pemimpin mereka,” sambungnya.

Hal itu disampaikannya ditengah ramainya budaya "Arabisasi" Islam di Malaysia, dimana banyak muncul tekanan terhadap perempuan untuk menggunakan hijab dan meningkatnya penggunaan kosakata Arab dan pakaian seperti jubah.

Sultan Ibrahim juga mengatakan bahwa dia berjabatan tangan dengan perempuan, meskipun konservatif Muslim tidak menyetujui para anggotanya berjabatan tangan dengan yang berbeda jenis kelamin.

“Mengapa saya harus berubah? Anda tidak harus menjadi fanatik. Jika mereka (perempuan) tidak yakin, saya bertanya apakah mereka mau berjabatan tangan. Jika mereka tidak mau, tidak masalah,” jelasnya.

Dia juga mengkritik Jabatan Kerja Raya (JKR) yang memasang pemberitahuan bahwa perempuan Muslim bakal digantung dengan rambut mereka sendiri di neraka jika mereka tidak berpakain tertutup.

“Sejak kapan JKR, baik di level negara bagian atau distrik punya kewenangan di persoalan keagamaan? Pekerjaan utama mereka adalah untuk memastikan jalan-jalan raya dikelola dengan benar dan tidak mempersoalkan rambut perempuan,” katanya.

“Bukanlah urusan lembaga pemerintahan untuk ribut tentang cara berpakaian orang-orang. Lakukan pekerjaan sesuai bayaran Anda dan urusi urusan Anda sendiri,” sambungnya.

Dan menurut kabar terakhir, Ketua Komite Negara Bagian Pekerjaan Umum, Pedesaan, dan Pembangunan Daerah Datuk Hasni Mohammad akan segera mencabut pemberitahuan tersebut.

Sumber: MV.BERITACENTER.COM

[*\maxor]
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM