Senin, 10 April 2017

Agama yang Rahmatan Lilalamiin


Guru Mas’ud Adakan Peringatan Isra Mi’raj
Guru Mas'ud (tengah)
UNTUK meningkatkan keimanan dan ketaqwaan umat, KH Syekh Mas’ud Husain Al-Hasani yang akrab disapa Guru Mas’ud mengadakan kegiatan peringatan Isra’ Mi’raj Rasulullah Muhammad SAW di kediamannya pada 6 April 2017 lalu.

Kegiatan yang dihadiri oleh tokoh masyarakat, tokoh agama dan masyarakat umum ini membahas berbagai hikmah dan pelajaran yang didapat dari peristiwa Isra Mi’raj.
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjid Al-Haram ke Al-Masjid Al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS Al-Isra [17]: 1). 

Setiap tanggal 27 Rajab, umat Islam memperingati peristiwa Isra Mi’raj. Menurut Guru Mas’ud peristiwa ini adalah peristiwa mukjizat terbesar kedua yang diterima Rasulullah SAW setelah Alquran. Karena itu, maka peristiwa Isra diabadikan dalam Alquran Surat Al-Isra ayat 1. Sedangkan peristiwa Miraj diabadikan dalam Surat An-Najm ayat 13 dan 14.

Ada beberapa hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa ini. Yang pertama, kata dia, peristiwa ini adalah menunjukkan ke-Mahakuasaan dan kebesaran Allah. Dia akan mengangkat derajat setinggi-tingginya hamba-Nya yang ingin menjadi Abdullah yakni orang yang mewakafkan dirinya untuk kepentingan agama Allah,'' tandas ulama kharismatik Kalimantan ini.

Ia juga mengatakan, Abdullah atau hamba Allah adalah gelar tertinggi yang harus diraih oleh setiap Mukmin. ''Jadi, gelar tertinggi itu bukan profesor atau doktor dan juga bukan kiai, bukan ustaz tapi gelar yang tertinggi adalah menjadi hamba Allah. 
Hamba Allah, kata dia, artinya ia hanya ingin dikendalikan oleh Allah SWT. Artinya dia menafikan pengendalian-pengendalian lainnya. Hamba Allah yang baik dia tidak akan dikendalikan oleh harta, oleh jabatan, kedudukan sehingga dia tidak menjadi abdul mal (hamba harta), abdul kursi (hamba jabatan), abdul butun (hamba syahwat), dan lain sebagainya.

“Akhir-akhir ini kita begitu prihatin melihat betapa agama dijadikan alat politik untuk meraih kedudukan dan harta,” kata Guru Mas'ud.
Dirinya menegaskan bahwa haram hukumnya menjadikan agama sebagai alat politik karena agama itu sebagai jalan kita untuk meraih ridha Allah SWT  dan bukan sebagai sarana untuk mendapatkan harta apalagi kekuasaan. Agama Islam yang kita jalani ini adalah agama yang rahmatan lilalamin.

Pelajaran Kedua lanjut Guru Mas’ud bahwa shalat merupakan syariat dan kewajiban yang besar maknanya. Dia adalah rukun Islam yang kedua. Dan perintah kewajibannya langsung dijemput ke atas langit di Sidratil Muntaha. Kita terus memperingatinya dan mempelajari sejarahnya sebagai pengingat bahwa kewajiban ini besar maknanya. Shalat merupakan amal yang pertama sekali akan dihisab oleh Allah di hari kiamat. Dan shalat merupakan pembeda antara kaum muslimin dan orang kafir. Rasulullah menasehati kita agar mengajarkan anak-anak kita shalat sejak kecil, dan memukul mereka ketika berumur sepuluh tahun jika meninggalkan shalat. Sudahkah ini kita lakukan?
Pelajaran Ketiga; bahwa agama samawi ditutup dengan risalah Rasulullah SAW. Semua Rasul terdahulu shalat sebagai makmum di belakang Rasulullah SAW.
Pelajaran Keempat: Kekuasaan Allah begitu besar dan Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. Bisa saja Allah menurunkan perintah shalat tanpa mukjizat Isra Mikraj. Bisa saja Allah memperjalankan Rasulullah langsung ke langit tanpa harus melalui Palestina dan shalat di Mesjid Al-Aqsha. Akan tetapi Allah ingin menunjukkan kekuasaan Nya dan menguji keimanan hamba-hamba-Nya. Ada sebagian orang beriman yang murtad ketika mendengar Isra Mikraj karena tidak masuk akal dalam pikirannya.
Tetapi ada yang teguh memegang akidahnya dan membenarkan mukjizat ini seperti sahabat Abu Bakar As-Shiddik RA. "Jangankan dengan (perjalanan) Isra' dan Mikraj ini, dengan berita yang lebih besar dari itu (agama Islam) aku percaya. Aku percaya bahwa Rasulullah mendapat wahyu dari Allah sebagai Nabi terakhir".
“Betapa penting kita mendidik generasi sekarang untuk menjaga dan mendirikan shalat, sebagaimana pentingnya kita menanamkan keyakinan dalam dada mereka seperti keteguhan keyakinan Abu Bakar As Shiddiq RA,” imbuh Guru Mas’ud yang juga Ketua Umum DPP Perhimpunan Rakyat Asli Kalimantan. (andi evrai)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM