Rabu, 22 Maret 2017

Pedang Keemasan Raja Salman untuk Kapolri Tito


oleh : Priyo Suwarno




Priyo Suwarno
DUA hari jelang kedatangan Raja Arab Saudi, Raja Salman Bin Abdulazis Al Saud ke Indonesia sebagai tamu kehormatan ke Indonesia, di Bandung terjadi peristiwa bom panci. Aksi mendapat perhatian langsung Kapolda Jawa Barat (Jabar) Irjen Anton Charliyan. Dia datangi langsung lokasi kejadian di kantor kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Senin (27/2/2017). 


Di lokasi itu suasana mencekam. Apalagi sudah terjadi ledakan, asap hitam mengepul dari lantai dua. Pelaku bersembunyi di kantor kelurahan itu. Densus 88 dan Brimob pun dikerahkan untuk menggerebek pelaku. 


Awalnya pengerebekan dipimpin Kapolrestabes Bandung Kombes Hendro Pandowo, kemudian Kapolda Jabar Irjen Anton Charliyan. Beberapa kali polisi memberi peringatan ke pelaku via pengeras suara. Namun pelaku hingga pukul 10.45 WIB, belum menyerah.

Irjen Anton menjelaskan pelaku meledakkan bom panci di lapangan yang jaraknya sekitar 50 meter dari kantor kelurahan Arjuna. Low explosive, daya ledak bom panci. Pelaku, diduga menuntut pembebasan tahanan Densus 88. Namun belum diketahui tahanan yang diminta agar dibebaskan tersebut.

Alhasil pelaku bernama Pelaku bom panci di Taman Pendawa, Bandung, Yayat Cahdiyat (YC), tewas saat penyergapan oleh Densus 88 Antiteror, Senin (27/2). Kini polisi masih menyelidiki identitas Yayat.

"Kalau dari hasil sementara, masih satu, belum ada penetapan tersangka lainnya, dan proses olah TKP-nya. Tentunya, setelah olah TKP ini dilanjutkan dengan proses penuntasan identifikasi," kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar saat ditemui di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo Nomor 3, Selong, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (1/3).

Proses identifikasi tetap pada prosedur scientific identification. Di mana pemeriksaan DNA keluarga sedang dilakukan dalam mengungkap jati diri pelaku pembawa bom tersebut. Jauh sebelumnya memang sudah berkali-kali Densus menangkapi tersangka pelaku terror sebagai bagian komitmen Indonesia untuk memerangi akti teroris dunia yang hingga sampai saat terus bergejala.

                                                                    ***

Persitiwa ini sudah jelas terjadi, akan tetapi begitu banyak isu seolah peristiwa ini merupakan settingan alias direkayasa dalam rangka menyambut kedatangan Raja Salman. Oleh karenanya Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian memberikan sejumlah penjelasan sekaligus membantah bahawa bom Panci Bandung tidak kaitan dengan kedatangan Raja Salman.
Keesok harinya, Wapres Jusuf Kalla juga memberikan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) memastikan bahwa bom Bandung mengguncang Taman Pandawa, Kota Bandung dan pembakaran Kantor Kelurahan Arjuna tak terakit dengan rencana Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud ke Indonesia. "Sama sekali tidak ada hubungannya," kata JK di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (27/2).
Sampai saat ini, JK memang belum mendapat laporan lengkap soal bom panci. Menurut JK, aksi terorisme seperti ini banyak terjadi di negara lain. Yang paling penting saat ini bagaimana terus mencegah aksi terorisme muncul kembali.
"Ndak ada negara bebas dari hal-hal (bom Bandung), apakah itu di Asia, Asia itu di Asia, Asia, di Timur Tengah, di Eropa, di Amerika. Yang penting bagi kita mencegah sekuat tenaga bahwa ada memang satu dua lolos, ya bagaimana kita negara luas. Tapi jangan lupa kita punya kepolisian, Densus dan tentara yang bekerja dengan sangat baik," pungkas JK.
Ledakan terjadi sekitar pukul 08.30 WIB. Bom meledak di Lapangan Pandawa, Cicendo, Bandung. Sesaat setelah ledakan pelaku berlari ke dalam Kantor Kelurahan Arjuna. Dia mengancam pegawai dengan pisau.

Pekerjaan institusi Polri makin bertambah, satu sisi wajib menangani kasus bom panci, disisi lain harus meluruskan setiap informasi, isu atau pendapat yang sering kali berbeda dengan apa yang terjadi di lapangan yang harus dihadapi petugas.
Pekerjaan semacam ini akan terus menrus terjadi dan semakin berkembang tidak henti. Oleh karena itu polisi menyiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi dalam semua persoalan yang dihadapi.
                                                                        ***
Menyambut tamu dari Negara pusatnya Islam bukan pekerjaan mudah, apalagi Raja Salman membawa rombongan super jumbo mencapai 1.500 personal. Oleh karenanya perencanaan hingga operasi pengamanan tamu Negara ini melibat TNI dan Polri yang jumlah personalnya pun mencapai 5.384 orang.
Sungguh pengamanan besar yang membutuhkan tingkat profesionalitas tinggi. Ternyata selama kunjungan kengeraan di Indonesia, berjalan mulus tanpa ada insiden apapun. Tentu ini bukan sebuah kebetulan, melainkan dirancang dan dikendalikan secara matang luar dan dalam.
Raja Salman pun memberikan apresiasi kepada tugas-tugas Polri dalam menangani keamanan dalam negeri RI. Ada dua apresiasi Raja Salman kepada Polri, pertama berupa cindera mata berupa sebuah pedang keemasan.  Kerajaan Arab Saudi memberikan cenderamata kepada Polri. Cenderamata istimewa itu diberikan melalui Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Osama bin Mohammed Abdullah Al Shuaibi.
Kapolri Jenderal Tito Karnavian menerima langsung pemberian pedang emas saat Dubes Arab Saudi berkunjung ke Polri. Namun Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar menyatakan, cenderamata itu bukan untuk pribadi Tito, melainkan untuk institusi Polri.

Hadiah pedang ini bias menjadi sangat istimewa, karena menurut catatan hanya dua orang yang pernah menerima hadiah serupa, yaitu mendiang Presiden Soeharto Pedang yang disepuh emas dari raja Arab.
Pemberian cenderamata diserahkan langsung oleh Raja Faisal kepada Soeharto saat jamuan makan malam kenegaraan di Istana Merdeka pada 10 Juni 1970, 47 tahun silam. Saat itu bertepatan dengan kunjungan Raja Faisal ke Indonesia.


Kini setelah hamper setengah abad cindera mata berikutnya jatuh ke tangan Jenderal Tito Karnavian yang kemudian menjadi heboh. Karena semua kagum, Kapolri mendapat cindera mata pedang emas dari Raja Salman.

Kali ini Polri lagi-lagi harus membuat klarifikasi dan pelurusan informasi yang tidak sesuai kenyataan. Fakta sesungguhnya ketika dilakukan pemeriksaan hingga ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk meneliti nilai pedang itu. Hasil sementara menunjukkan bahwa pedang itu bukan terbuat dari emas murni, melainkan dibalut dengan logam berwana keemasan. Kepastiannya memang sedang menunggu hasil uji dari KPK.
                                                             ***
Barangkali kerasan, Raja Salman yang semula hanya berlibur selama hanya sepekan dari tanggal 3 hingga 9 Maret kemudian diperpanjang sampai 12 Maret? Benarkan Raja Salman sangat enjoy dengan Indonesia, khususnya Bali. Ini semua tidak terlepas dari suasana aman dan nyaman ketika rombongan tamu agung ini selama berada di Indonesia.
Tanggal 10 Maret 2017, pada saat Raja Salman masih menikmati liburannya di Bali, lagi-lagi Densus 88 memberi bukti kepada Indonesia dan dunia bahwa ada tembilan teroris diringkus di Sulawesi Barat, persisnya di Parigi dan Tolitoli yang berencana menyerang sejumlah maskas polisi di Sulawesi.


Sejurus dengan itu lebih jelas dan tegas, peristiwa serupa terjadi ketika aparat keamanan dalam negeri Malaysia juga berhasil membekuk tujuh tersangka teroris yang berencana Polisi Malaysia mengatakan serangan teroris berhasil digagalkan saat kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi di negara itu. Tujuh militan yang merencanakan serangan ditangkap.


Kepolisian Malaysia meringkus tujuh anggota kelompok militan ditangkap akhir bulan lalu menjelang kunjungan Raja Salman dari Arab Saudi ke negara jiran itu. Ketujuh orang itu dituduh merencanakan serangan terhadap "keluarga kerajaan" Arab Saudi. Raja Salman mengunjungi Malaysia 26 Februari sebagai bagian dari kunjungan hampir sebulan ke beberapa negara Asia, termasuk ke Indonesia.


"Mereka berencana menyerang keluarga kerajaan Arab Saudi di saat kunjungannya ke Kuala Lumpur. Kami membekuk mereka sebelum lawatan itu," kata Inspektur Jenderal Polisi Khalid Abu Bakar kepada wartawan di Kuala Lumpur. Dua dari tujuh tersangka merencanakan serangan besar-besaran dengan menggunakan "kendaraan yang sudah dimodifikasi bermuatan bahan peledak ".


Dengan demikian jelas bahwa teroris dan terorisme itu bukan sebuah khayalan, eksis dan berada di hampir seluruh dunia. Dia menghantui negara manapun, lembaga apapun, dan kepada siapapun. Kita semua bisa jadi target sengaja maupun tidak sengaja yang dilakukan oleh teroris. 


Memang Raja Salman memberi cindera mata kepada Kapolri berupa pedang berwarna keemasan. Artinya penindakan terhadap teroris harus semunir emas. Jika pedang itu bukan emas, maka Polri tetap berkewajiban menumpas teroris dengan hati nurani paling murni, semunir emas. (*)


Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM