Rabu, 25 Januari 2017

JAZZ DI TENGAH GEMPURAN MUSIK-MUSIK POPULER




(Oleh : AHMAD JAILANI, Ketua Balikpapan Jazz Lovers)

Ahmad Jaelani
TUJUAN  utama industri musik rekaman adalah keuntungan. Hal itu berarti bahwa jumlah album rekaman yang dijual harus mencapai jumlah angka tertentu untuk memperoleh keuntungan. Oleh karena itu, lagu yang dihasilkan harus popular. Popular dalam arti album rekamannya bisa dinikmati dan dibeli orang sebanyak mungkin.

Istilah untuk suatu album rekaman yang banyak terjual di Indonesia dikenal dengan hit’s atau ‘meledak’. Ukuran hit’s sebetulnya bersifat relatif, angka penjualan 150 ribu copy sudah dianggap mencapai hit’s. Pada tahun 1980-an angka penjualan 400 ribu copy merupakan standar hit’s. Hit’s biasanya diukur dari rata-rata album rekaman yang terjual pada suatu kurun waktu. 


Apabila dalam satu tahun rata-rata album rekaman yang terjual hanya 100 ribu copy, maka angka di atasnya sudah merupakan hit’s. jadi dapat dikatakan ukuran hit’s adalah angka penjualan di atas rata-rata. Ini yang membedakan industri musik di Amerika dengan Indonesia, di Amerika album yang terjual sebanyak 500 ribu copy berhak mendapat dengan predikat album emas, sedang apabila penjualannya sudah mencapai 1 juta copy maka album tersebut mendapatkan predikat album platinum.

Dalam industri rekaman ada beberapa unsur yang berperan dan berhubungan satu dengan yang  lainnya. Unsur-unsur tersebut adalah pelaku industri musik rekaman yang meliputi produser dan perusahaan rekaman, musisi, penyanyi, dan pencipta lagu. Kemudian beberapa unsur lain adalah teknologi rekaman, pemasaran, dan pembajakan. 

Dalam pengumpulan pendapat terhadap jenis lagu yang paling digemari oleh masyarakat pada tahun 1972 yang pernah dilakukan oleh majalah musik “Aktuil” (sekarang sudah tidak terbit lagi), ternyata orang Indonesia lebih banyak menggemari musik pop dan rock. Sementara itu, di tengah lajunya perkembangan musik pop dalam rekaman pada tahun 1970-an, musisi jazz lebih banyak  sebagai musisi panggung di night club, bar dan restoran serta hotel. Posisi musisi jazz dalam studio rekaman pada masa itu, kebanyakan sebagai musisi pengiring. 

Misalnya Benny Mustafa, Kiboud Maulana, dan Hengky di Musica Studio. Kemudian sebagai music supervisor seperti Enteng Tanamal, atau sebagai pengelola studio rekaman seperti Jack Lesmana di Irama Tara.

Pada tahun 1970-an di Indonesia ada dua studio rekaman yang khusus merekam musisi jazz. Pertama adalah Hidayat Record di Bandung yang merekam dan mengedarkan kaset-kaset jazz Indonesia dengan penyanyi seperti Rien Djamain dan Margie Segger. Billiantana Firmansyah pemilik Hidayat Record, memang menyukai jazz sejak dia kuliah. Kegiatannya dalam merekam musik jazz karena hobby bukan merupakan bidang usaha atau pekerjaannya. Bisnis rekamannnya tetap jalan karena ditunjang oleh bisnis yang lain.

Studio rekaman kedua yang sering merekam musisi jazz adalah Irama Tara di Jakarta. Pemilik Irama Tara, Suyoso Karsono, adalah orang yang sangat memperhatikan musisi dan musik jazz Indonesia, Suyoso Karsono sering menawarkan rekaman di Irama Tara tanpa mempertimbangkan rekaman tersebut nantinya akan laku atau tidak.

Beberapa rekaman album jazz yang patut dicatat selama tahun-tahun 1960 sampai 1990 adalah dari trio Nick Mamahit, Dick van DerKapellen, Dick Eibel yang album rekamannya pada tahun 1961 berjudul “Rindu” menjadi hit’s di Irama Tara, mereka merekam hit’s yang lainnya berjudul “Sarinande” yang dinyanyikan oleh Nien Lesmana.

Kemudian Bubi Chen membuat album rekaman pada tahun 1960-an dengan judul “Lagu Untukmu”. Dan rekaman musik jazz yang muncul pada tahun 1970-an adalah lagu-lagu ciptaan Jack Lesmana yang berjudul ”Semua Bisa Bilang” dan “Api Asmara”. Kedua lagu itu berirama pop jazz dan dinyanyikan oleh Margie Segers pada tahun 1973. Pada tahun 1978 Jack Lesmana rekaman di Irama Tara dengan lagu pop yang diaransemen jazz. Lagu-lagu itu antara lain “Pelangi” dan “Merpati Putih”. Musisi jazz lain yang aktif dalam dunia rekaman adalah Ireng Maulana. 

Tahun 1983 Ireng Maulana pengiring Rafika Duri dalam irama opo jazz. Begitu juga rekaman Mergie Segers dan Ermy Kullit yang memang jazz yang diiringi oleh Ireng Maulana. Album-album rekaman jazz yang cukup berhasil secara komersial pada era 1980-an adalah album grup Funk Section, Krakatau, Karimata, Emerald, Spirit, Hydro, Mahameru, January Christy.

Nah bagaimana di era tahun 2000-an nasib musisi jazz kita dalam rekaman, sejujurnya sangat memprihatikan dari segi penjualan albumnya, untuk mencapai  angka 100 ribu copy saja sudah sangat susah untuk dicapai, seperti album “Biting” nya Karimata yang diproduksi oleh Pro Sound dan album “Melayang” nya January Christy produksi Aquarius yang mencapai angka penjualan 100 ribu lebih. 

Kebanyakan musisi jazz sekarang membuat album lewat lebel independen seperti demajors Record, karena mayor lebel seperti Columbia, Universal, dan lain-lain lebih tertarik merekam album musik lain seperti musik-musik popular. Mereka yang merekam albumnya di demajors Record banyak musisi seperti Dewa Budjana, Indro Hardjodikoro, Tulus, Aksan Sjuman, LLW, dan hanya beberapa artis saja yang dikotrak oleh major lebel seperti Raisa dan Ran artis Universal, Maliq D’Essential dari Warner Music, Dira Sugandi dari Aquarius, Andiendari Platinum, Tompidari RPM record dan Tohpati artis Sony BMG.

Padahal sekarang ini semakin banyak saja grup-grup dan penyanyi jazz bermunculan, itu disebabkan semakin maraknya panggung jazz di berbagai daerah di Indonesia, baik di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan. Setidaknya banyaknya event jazz di berbagai daerah bisa menciptakan “market jazz” yang potensial, tapi anehnya hal itu semua tidak membuat angka penjualan album jazz semakin meningkat, apalagi pembajakan hak cipta saat sekarang ini masih belum bisa diberantas tuntas. 

Bahkan untuk menghindari pembajakan musisi seperti IndraLesmana harus menjual rekamannya via I Tunes. Kurangnya kesadaran masyarakat kita akan membeli rekaman asli juga membuat salah satu sebab industri musik jazz  kita semakin memperihatinkan, andai saja kesadaran konsumen musik kita mengubah perilakunya untuk membeli bajakan saya rasa industri musik jazz kita akan kembali marak. (*)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM