Minggu, 13 November 2016

Tiga Pasutri Diangkat Derajatnya dalam Ritual Beluluh Adat Kutai

Abdal Nanang. (baharsikki/kk)
SANGATTA, KABARKALTIM.CO.ID- Melalui upacara Adat Kutai yang disebut beluluh, tiga pasangan suami istri (pasutri) resmi diangkat derajatnya disaksikan sejumlah pasang mata di halaman kediaman Abdal Nanang, Senin (14/11/2016) pagi. 

Yang menjalani prosesi ritual beluluh, yakni Pasutri Bupati Ismunandar- Encek UR Firgasih, (Wakil Ketua DPRD Kutim), pasutri Wakil Bupati Kasmidi Bulang - Satriani, dan  pasutri Ketua Adat Besar Abdal Nanang- Ny Abdal menggunakan busana khas motif batik warna putih hitam.



Menurut pemandu ritual Aji Bambang Ibrad, acara adat Kutai beluluh diartikan sebagai orang diangkat derajatnya setelah mendapat persetujuan Kesultanan Kutai. Termasuk pada
Ismunandar (duduk). (baharsikki/kk)
ponggawa di daerah ini. Jadi acara beluluh bukan kegiatan membuang sial, tapi beluluh dimaknai sebagai prosesi adat dalam mengangkat derajat seseorang yang telah mendapat persetujuan.

Ritual adat Kutai punya tahapan. di antaranya, beluluh (mengangkat derajat seseorang), berikut belimbur (buang sial). Belimbur ini punya acara khusus, orang yang sudah diangkat derajatnya tadi dimandikan menggunakan air tawar guna membersihkan diri membuang sial agar dapat menolak bala segala kejahatan gaib. Ada juga ritual tanjung benang, yaitu pemberian nama gelar  kepada yang telah menjalani tahapan prosesi adat Kutai tadi.

"Gelar untuk tiga pasutri yang baru saja menjalani ritual beluluh, itu terserah kesultanan Kutai," tutur Bambang. 

Bagi mereka yang telah resmi menjalani ritual adat Kutai, tentunya punya pantangan tersendiri yang tidak boleh dilanggar. Kalau mereka melanggar sumpah, mereka mendapat sanksi. "Nanti pada Rabu, 16 November 2016, tiga pasutri tersebut akan saya bacakan pantangan yang tidak boleh dilanggar. Jadi sebenarnya ada dua sumpah. Ada sumpah dari orang telah diangkat derajatnya secara secara adat, dan ada sumpah dari masyarakat," urai Bambang.

Terkait ritual beluluh beragam bahan pelengkap upacara sakral tersebut. Di
Pasutri Kasmidi- Satriani. (baharsikki/kk)
antaranya,bambu,beras berwarna warni, pisang telur, kelapa, pinang, janur kuning, daun beringin, kunyit, uang recehan Rp 5.000,-, gula merah, daun sirih,  lilin dan lainnya. Permadani tempat duduk bagi orang yang diangkat derajatnya itu terbuat dari rakitan bambu tiga tingkat yang ditopang 16 tiang. Pengikatnya dari rotan. Ada kain warna kuning. Dan, nampak asap api dupa.

Bambu yang bisa digunakan tidak sembarang ambil. Tapi ada ritual yang mesti dijalani bagi orang yang bakal diangkat derajatnya. Yaitu, berniat, ketika tidur memimpikan bahwa bambu itu bisa digunakan, barulah bambu diambil untuk dirakit. (ri)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM