Kamis, 06 Oktober 2016

Mengenal Koko, Sosok Rendah Hati dan Peduli Wong Cilik


Koko Budi Wibowo
PENAJAM, KABARKALTIM.CO.ID-Salah satu figur baru yang banyak disebut masyarakat Penajam Paser Utara (PPU) untuk meramaikan suksesi kepemimpinan di PPU, Koko Budi Wibowo, belum lama ini dikunjungi kabarkaltim.co.id. Bagaimana pendapat dan pandangannya? 

Disodor pertanyaan seperti itu, Koko sapaan akrab Koko Budi Wibowo, hanya banyak tersenyum, bahkan personel Kodim PPU kelahiran Lamongan Jawa Timur tersebut, beberapa kali mengalihkan pembicaraan dengan hal-hal lain. 

"Sudah-sudah, diminum kopinya. Saya takut kalau mengecewakan masyarakat," sebut Koko yang rela bangun pukul 01.30 Wita untuk menemui media ini. 


Dari jawaban dan raut muka Koko, media ini menggambarkan, itulah jawaban sosok yang rendah hati, tidak ambisius atau emosional. Sejauh ini Koko banyak didorong oleh beberapa kelompok masyarakat untuk maju dalam pilkada PPU 2018 mendatang, dan itu bukan dari keinginan Koko, namun elemen-elemen masyarakat di PPU yang mendorong sendiri. 

Berbicara panjang lebar, Koko banyak mengulas mengenai kehidupan secara umum. Awal mula dirinya bertugas di Tarakan, kemudian pindah ke Balikpapan dan akhirnya mulai 2004 dirinya bertugas dan menetap di Kabupaten PPU. 

"Saya ucapkan terima kasih untuk masyarakat yang mendorong saya. Terima kasih perhatiannya. Saya ini wong cilik," ujar Bapak empat anak ini kembali merendah. 

Koko banyak mengajarkan filosofi-filosofi kehidupan, seperti menjalankan sesuatu itu harus ikhlas tanpa pamrih. "Bersama keluarga, kami sudah komitmen, bagaimana mengelola kehidupan ini untuk memberi manfaat bagi orang lain. Kalau memberi harus ikhlas, perbanyak sosial, sosial itu pengaman harta kita. Dalam hidup juga harus jujur, lakukan yang halal agar semua menjadi berkah," beber Koko. 

Banyak aksi sosial yang dilakukan Koko, namun lagi-lagi dirinya lebih banyak merendah, sangat low profile dan membaur dengan semua masyarakat. "Saya sudah ingatkan keluarga atau anak buah, siapa pun tamu yang datang, kalau saya tidur, dibangunkan. Jangan menolak tamu. Kalau memang capek betul, saya lebih memilih istirahat di luar, kalau di rumah, harus siap melayani siapa saja yang datang," urai dia.

"Kebersamaan ditekankan, saya dan keluarga saat makan pun sehidangan dengan anak buah. Jadi kalau saya makan tempe, ya anak buah makan tempe. Apa yang ada itu dimakan, tanpa batasan tuan rumah atau bos dengan anak buah. Tanpa mereka (anak buah), saya bukan apa-apa. Pun dengan pemimpin, tanpa masyarakat atau rakyatnya, dia bukan siapa-siapa. Dari sinilah kita tidak boleh arogan, harus peduli, apalagi itu wong cilik harus dipedulikan," kata Koko. (tim kk)


 

 
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM