Rabu, 31 Agustus 2016

"Belum Musim Kemarau tapi Sudah Kekeringan"

Hormansyah. (bahar sikki/kk)
SANGATTA,KABARKSALTIM.CO.ID- Kepala Badan Ketahanan Pangan Hormansyah khawatir soal krisis air landa beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dari pengamatan Hormansyah, ada beberapa wilayah saat ini, penduduknya sulit memperoleh air bersih untuk keperluan sehari-hari. Jangankan,air sungai saja debitnya sudah sangat menurun. Apalagi air sumur tanah sudah ada yang kering. Padahal awal September ini cuaca masih sering turun hujan. Sementara ketahanan pangan bisa diwujudkan bila ketersediaan air memadai. “Belum kemarau tapi sudah terjadi kekeringan,” kata Hormansyah di kantornya yang beralamat di Jl. AW. Syahrani, Kamis (1/9/2016).

Untuk mengatasi kelangkaan air baku  kedepan di Kutim diperlukan kajian ilmiah. Karena saat ini, kondisi air sungai Taka, air sungai Tadoan dan air sungai lainnya sudah sangat memprihatinkan. Airnya tercemar tampak warna kuning dan tercium bau lumpur, serta debitnya menurun. Kondisi ini kalau dibiarkan bisa-bisa membawa petaka  bagi masyarakat di daerah ini.

“Kalau benar, tanaman sawit, satu pohon bisa menyerah volume  air  lebih banyak tiap hari, maka ini merupakan ancaman serius bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Untuk perlu kajian akademis guna mencari solusi bagaimana kedepan ketersediaan air baku di Kutim tetap cukup,” harap Hormansyah optimistis.


Hormansyah mengungkapkan, Desa Manduk,Kecamatan Sangkulirang salah satu wilayah pelosok Kutim yang kini warganya mengalami kesulitan dalam memperoleh air bersih. Warga Desa Manduk sebaiknya dibuatkan embung (kolam tada air hujan) untuk dijadikan sumber air baku. Di sana ada lahan sekira 1 hektare. Kalau 1 Ha ini dijaadikan embung pada kedalaman 5 meter, sudah pasti bisa menampung air hujan ribuan kubik. Di sekeliling embung itu nantinya ditanami tumbuhan air seperti pakis. Agar sumber air baku tersebut tetap aman bagi kesehatan. Pembangunan embung tersebut dikerjasamakan dengan perusahaan seperti PT Astra.

“Ini pengalaman saya sewaktu jadi camat Sangkulirang dahulu,” beber Hormansyah.

Pembangunan embung menjadi salah satu solusi dalam upaya mengatasi krisis air baku kedepan di daerah ini. Apalagi, kalau memang benar, tanaman sawit daya serap airnya cukup tinggi. Maka dipastikan, kedepan warga Kutim kesulitan mendapatkan air  yang cukup. Karena di Kutim tanaman sawit  sudah dikembangkan di lahan luasan ratusan ribu hektare. (ri)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM