Maret 30, 2021

Peningkatan Produksi Beras lewat Budidaya Padi Gogo Varietas Lokal Indonesia

YM Tonny Purba mengembangkan budidaya Padi Gogo varietas lokal (ist/kg)
PENURUNAN produksi beras, terutama disebabkan adanya konversi lahan sawah yang digunakan untuk pembangunan infrastruktur jalan raya, pabrik, industri dan perumahan. Dengan terkonversinya lahan sawah, luas sawah juga akan semakin berkurang, maka salah satu cara untuk meningkatkan produksi beras secara nasional adalah melalui pengembangan padi Gogo. Potensi lahan kering di Indonesia cukup luas bisa diberdayakan untuk pengembangankan padi Gogo. 

Padi Gogo disebut juga dengan istilah padi huma atau padi darat, beberapa hal yang perlu diketahui tentang Padi Gogo antara lain : 

Pertama. Padi Gogo cocok ditanam di lahan kering, baik di dataran rendah, sedang dan tinggi. Padi gogo memang memerlukan air dalam pertumbuhannya, tapi tidak dalam kapasitas berlebihan, kebutuhan air bisa hanya mengandalkan curah hujan saja. 

Kedua. Dengan semakin berkembangnya penemuan-penemuan varietas baru Padi Gogo, produksi gabahnya tidak kalah dengan produksi gabah yang ada di sawah, padi Gogo bisa panen di atas 5 ton per ha, bahkan di beberapa daerah bisa menghasilkan 7 ton per ha 

Ketiga. Budidaya Padi Gogo ramah lingkungan, kebutuhan pupuk dan kebutuhan air tidak sebesar jika dibandingkan budidaya di sawah, budidaya mengacu kepada pertanian yang keberlanjutan dan kelestarian lingkungan dengan meminimalisir penggunaan bahan kimia seperti pupuk dan pestisida. 

Keempat. Padi Gogo bisa tumbuh subur pada berbagai jenis tanah dan lokasi, proses pengelolaan lahan juga mudah, pengolahan lahan dilakukan saat awal musim hujan, cukup diberikan pupuk kandang, padi Gogo bisa tumbuh subur. 

Kelima. Penanaman benih padi Gogo sangat sederhana, tanpa melakukan persemaian terlebih dahulu cukup dilakukan dengan cara tugal atau larikan, saat ini mesin tanam juga sudah ada, baik semi manual atau dengan mesin. 

Saya sedang melakukan pemberdayaan kepada petani padi lewat LPPM Universitas Simalungun, ada dua varietas yang dibudidayakan, yaitu Padi Gogo IPB 9G dan Inpago Unsoed-1. 

Diharapkan dari budidaya padi Gogo ini agar potensi lahan tidur yang ada di Universitas Simalungun bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah bukan saja untuk Universitas Simalungun tapi bisa sebagai contoh bagi petani padi yang ada di Kabupaten Simalungun dan Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara. 

Varietas lokal juga ada di Simalungun, namanya Sigambiri, jenis beras merah, umur tanaman 6 bulan, sementara yang sedang dibudidayakan sekarang adalah jenis beras putih, aromatik, pulen, umur panen 105 hari. 

Semoga saat panen bisa di atas 5 ton per ha, dengan biaya bertani murah, sebuah peluang bagi petani untuk meningkatkan penghasilan, petani bisa lebih sejahtera. Jika petani menanam secara masif dengan memanfaatkan potensi lahan kering yang ada maka bisa sebagai upaya untuk mengembalikan Kabupaten Simalungun sebagai lumbung beras di Sumatera Utara dan juga ikut membantu pemerintah dalam upaya penyediaan beras secara nasional. M

Menanam padi di sawah saat ini sulit diandalkan lagi karena luas lahan sawah selalu berkurang, jika pemerintah bisa mempertahankan luas lahan sawah sudah sebuah keberhasilan, sehingga dengan melihat kondisi tersebut maka potensi padi Gogo bisa sebagai salah satu cara dan perlu dibangkitkan kembali untuk peningkatan stok beras secara nasional dalam upaya pemerintah meraih swasembada beras. (*)

Penulis : YM Tonny Saritua Purba (Penyuluh Swadaya Petani Padi Indonesia)

Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Kami

NEWS UPDATE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM