Januari 17, 2019

"Gerakan Politik Kesukarelaan"

catatan : raga affandi (pemimpin redaksi kabarjateng.co.id) 


PENGALAMAN tak terlupakan adalah ketika mengikuti acara deklarasi non partisan di Yogyakarta tahun 2014 lalu. Deklarasi saat itu melibatkan banyak sekali seniman seperti Butet Kertarajasa, Bramantyo, Landung Simatupang, dan lain-lain. Bertempat di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Seorang tukang becak mengaku menyumbangkan uang limapuluh ribu rupiah agar bisa ikut pawai becak dalam acara tersebut. Para penari berdandan atas biaya sendiri; para pengisi acara, salah satunya Jogja Hiphop yang terkenal dengan lagunya Jogja Istimewa, menyumbangkan lagunya tanpa dibayar. Para peserta tumpah ruah memenuhi alun-alun utara bersolek kegembiraan. Hebatnya lagi, para pemotor PDIP yang biasa gembar-gembor knalpot motor, mendadak adem dan menyimak acara dengan takzim. 
Dari acara itu saya mendapatkan sebuah kesan, bahwa selain politik transaksional, yang selama ini digambarkan dalam pameo: "Tak ada makan siang gratis", telah bangkit sebuah gerakan politik Kesukarelaan, yang menggambarkan semangat yang berseberangan dengan politik transaksional. 

Politik kesukarelaan juga yang membuat saya melangkahkan kaki ke anjungan tunai mandiri (ATM) dan melakukan transfer sebanyak 50 ribu rupiah ke rekening Jokowi. 

Harapan saya, Jokowi akan memerintah Indonesia tanpa tekanan apapun, dari siapapun, karena tak berhutang pada donatur besar yang punya kepentingan. Saya berharap, satu-satunya tekanan hanya berasal dari pemilihnya yang hanya berharap pemerintah akan menjadi fasilitator yang baik bagi rakyatnya, menyiapkan sarana prasarana, agar rakyat dapat berjalan dan berusaha di atasnya.

Saya bersyukur, harapan itu terkabul. Jokowi bersih, dan mendorong optimisme di dalam hati berjuta rakyat Indonesia. (*)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM