Jumat, 30 November 2018

MUSLIM MILENIAL DALAM MENGHADAPI RADIKALISME DAN TANTANGAN WAWASAN KEBANGSAAN

Penulis: Endah Priyati, M.Pd
Deklarasi Rumah Demokrasi tetap setia pada ideologi Pancasila dan NKRI
ADA hal menarik yang dipersembahkan oleh Rumah Demokrasi yang bekerjasama dengan Institut Demokrasi Republikan (ID-Republikan) yang digelar pada Jumat, 30 November 2018 di Hotel Diradja, Mampang, Jakarta Selatan. Persembahan tersebut adalah Seminar Nasional bertema "Muslim Milenial dalam Menghadapi Radikalisme dan Tantangan Wawasan Kebangsaan". Berikut ini adalah penjelasan dari para narasumber yang hadir dalam Seminar Nasional, yakni:
1). Prof Dr. Sukron Kamil [Dekan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta]
Ada hal yang mencengangkan dari temuan riset PPIM UIN Jakarta yakni 54% generasi milenial belajar agama bukan dari ahlinya yakni belajar agama lewat blog, medsos ustadz selebriti dan website. Terdapat 51% mahasiswa dan pelajar Muslim memiliki opini intoleran terhadap minoritas. Terdapat 58% mahasiswa dan pelajar Muslim memiliki pandangan radikalisme yang menginginkan jihad untuk mendirikan negara khilafah.


Para narasumber seminar nasional gelaran Rumah Demokrasi
Dari temuan tersebut ternyata sangat penting pendidikan atau ceramah keagamaan yang terbuka, toleran dan inklusif bahkan pembelajaran agama yang beragam dan ajaran kepercayaan lainnya. Contoh generasi pendukung Pancasila dan NKRI perlu melakukan upaya kampanye Islam Nusantara di akun media sosial yang sedang digandrungi kaum milenial seperti yang dilakukan oleh Kyai NU, misalnya akun media sosial milik Gus Mus.

2). Arijani Lasmawati, M.Si [Psikolog/Peneliti Radikalisme]

Terdapat fakta riset BNPT pada tahun 2016 ditemukan buku pelajaran pra-SD berjudul "Anak Islam suka membaca bacaan yang mengandung unsur radikalisme". Riset lain dari Saiful Mujani pada tahun 2017 bahwa terdapat 1.350 WNI terkait khilafah dan ajaran terorisme. Faktor pendorong yang menyebabkan hal itu terjadi setelah diteliti dengan pendekatan kualitatif adalah masih maraknya kualitas pendidikan dengan metode dogmatis, narasi politik yang dibangun cenderung bombastis tanpa fakta valid karena keterbatasan akses politik yang mencerdaskan dan keadaan ekonomi yang kurang memadai serta pola asuh dalam keluarga yang membentuk karakter anak kurang toleran dan inklusif.

3). Nasir Abbas [Pakar Radikalisme/Mantan Tokoh Jamaah Islamiyah]

Radikalisme bersumber pada kehendak ekstrem dengan cara kekerasan yang menciptakan ketakutan, kengerian dan kekejaman oleh seseorang atau golongan.
Sejatinya, para pendiri bangsa Indonesia yang sudah merumuskan konsep Pancasila sudah tepat dan sesuai dengan konteks kemajemukan bangsa Indonesia. NKRI yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 sebagai negara merupakan konsensus dan persaksian sudah relevan bisa diterima oleh semua elemen bangsa. Bahwa nilai-nilai Pancasila sudah final sesuai ajaran Islam. Tidak ada pertentangan di dalamnya.


4). Mohammad Nuruzzaman [Aktivis GP Ansor]

Ada temuan menguatnya ideologi Islam transnasional turut memberi ruang tumbuh suburnya ceramah-ceramah keagamaan yang menggunakan cara-cara kekerasan dan menganggap kelompoknya paling benar sehingga mudah mengkafirkan kelompok lain. Contoh kelompok Salafi Jihad dan Ikhwanul Muslimin yang tujuannya mendirikan Negara Islam. Ada pula temuan bahwa generasi milenial memiliki semangat keagamaan tinggi dengan praktik simbolik terutama gaya berbusana tetapi pengetahuan agamanya rendah dan cenderung intoleran karena hanya diperoleh dari media sosial saja, bukan berguru pada ahlinya.
**
Catatan Penulis
Dari perbincangan keempat para narasumber di atas, penulis menyimpulkan bahwa generasi milenial harus bergerak secara aktif dengan proses yang militan, kaderisasi yang terjaga dalam komunitas, lembaga pemerintah dan jejaring media sosial untuk mensosialisasikan gerakan-gerakan pro kebangsaan dan kebhinekaan serta menyebarkan nilai-nilai Pancasila khas milenial agar dapat membuka selaput kesadaran yang inklusif dan toleran. Di zaman internet sekarang ini informasi yang masuk ke dunia virtual harus kita filter. Ingat slogan “saring sebelum sharing”. Kita harus cerdas berliterasi digital agar segala informasi yang masuk ke akun media sosial kita tidak menjadi sampah digital. Informasi yang bermanfaat adalah informasi valid yang bisa dipertanggung jawabkan, bukan informasi hoaks. (*)


Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM