Kamis, 08 Desember 2016

Pemilik Maskapai Penerbangan AirAsia Kagum dan Bangga pada Presiden Jokowi

Presiden Jokowi saat hadir di antara jamaah shalat Jumat 212

"Secara  protokoler pemerintahan, memang kedatangan Presiden Jokowi ke Monas itu sangat membahayakan. Tak ada Paspampres dari negara manapun yang berani mengawal pimpinannya untuk hadir di acara seperti itu. Bahkan meski di Amerika Serikat sekalipun."

KABARKALTIM.Co.Id- Hingga kini keberanian Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Monas pada aksi 212 untuk shalat Jumat bersama rakyatnya masih menjadi perbincangan dan diperbincangkan banyak orang. Hal itu bukan hanya terjadi di Indonesia, karena ternyata keberanian Presiden Jokowi tersebut tak luput dari perhatian orang-orang di manca negara, Salah satunya adalah dari Tony Fernandez, pemilik maskapai penerbangan AirAsia, maskapai penerbangan murah terbaik di dunia saat ini.

Dalam akun Facebooknya, Tony menuliskan: “Today I met an amazing leader. But yesterday was the story of a great man becoming a legend an honest man, a man of the people. Not many bodyguards but willing to meet his people to care for his people. Confronting problems head on. I'm not Indonesian but I’m Asian and I for one am proud that there is leader like Presiden Jokowi.
You have my total support and respect and admiration. Great leadership is about honesty, putting people first, humility and making tough decisions and believing in your team.”

Tentu saja, kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia merasa lebih beruntung dari Tony Fernandez. Karena kita bisa langsung membanggakan dan mengagumi Presiden kita sendiri, Presiden Indonesia Joko Widodo (akrab disapa: Jokowi). Jika Tony saja sampai membawa-bawa kebanggaan sebagai warga Asia untuk bisa merasa memiliki seorang Jokowi, maka kita pun dapat menyebut sebagai warga Asia dan bangga sebagai orang Asia. Kita, saya dan anda, rakyat Indonesia dan Jokowi adalah Presiden negara kita dan tentu kita lebih bisa memiliki kebanggaan secara langsung dibanding Tony Fernandez.

Mungkin saja, selain Tony Fernandez, masih banyak orang di luar sana yang begitu takjub dan tercengang dengan keberanian dan kepercayaan diri seorang Jokowi. Dan, mungkin saja mereka punya penilaian yang sama bahwa keputusan Presiden Jokowi yang pasti belum tentu dan bahkan tak akan pernah berani dilakukan oleh pimpinan negara mereka.

Secara protokoler pemerintahan, memang kedatangan Presiden Jokowi ke Monas itu sangat membahayakan. Tak ada Paspampres dari negara manapun yang berani mengawal pimpinannya untuk hadir di acara seperti itu. Bahkan meski di Amerika Serikat sekalipun.

Menurut informasi yang beredar, berasal dari sumber lingkaran dalam istana, bahwa pada malam sebelum aksi 212, terkait kemungkinan Presiden Jokowi nekat mendatangi massa, sebenarnya masih ada rangkaiannya dengan peristiwa aksi Demo 411 sebelumnya. Sebab pada 411 sebenarnya Jokowi mau shalat jumat di istiqlal, namun semua orang di lingkaran istana tak ada yang mengijinkan. Saat itu massa sudah berkumpul dan menuntut bertemu Presiden Jokowi. Presiden Jokowi juga sempat ingin kembali ke istana, mengakhiri blusukannya. Namun itupun dilarang oleh pengamanan istana, sebab tidak memungkinkan. Masih menurut informasi tersebut bahwa malam itu tidak ada yang berani merekomendasikan keputusan seperti itu.

Sampai menjelang siang, tak ada tanda-tanda Presiden Jokowi akan membatalkan keinginannya untuk menemui massa, sebab terlalu beresiko untuk mengawalnya dan kalangan istana pasti akan berusaha untuk mencegah keinginan Presiden Jokowi tersebut. Sekretaris pribadi Presiden Jokowi, Anggit Noegroho, adalah orang terakhir yang diminta membujuk agar membatalkan keinginan Jokowi. Namun upaya Anggit pun tak berhasil.

“Kalau wajah Pak Jokowi seperti itu (keras dan serius) saya hafal sekali, kemauannya tak bisa ditolak. Jadi saya cuma bilang: Ya Pak, nanti pengamanan disiapkan,” cerita Anggit.

Jadi memang kedatangan Presiden Jokowi ke Monas adalah sejarah luar biasa bagi negeri ini, untuk keberanian seorang Presiden dan kepercayaannya kepada tim pengamanan. Kita pun terpaksa sepakat dengan Tony Fernandez, bahwa apa yang bisa dilihat dari Jokowi adalah contoh pemimpin yang luar biasa. Tulus, mengutamakan rakyat, kerendahan hati, dan percaya pada tim.

Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Tony Fernandes salut dengan Jokowi. Dulu saat ada kecelakaan pesawat AirAsia, Tony juga memuji Presiden kita ini.

“Pak Jokowi merupakan Presiden yang luar biasa (amazing). Dia menyempatkan waktu untuk melihat dan fokus membantu pencarian pesawat ini. Pak Jokowi bilang pada saya untuk mengerahkan segala aset dan tenaga ke lokasi, kita akan bekerja secara cepat. Dan diharapkan evakuasi bisa selesai besok,” puji Tony.

Kecelakaan AirAsia ini terjadi setelah tragedi hilangnya Malaysia Air. Dunia menyorot dua pemimpin negara, Indonesia dan Malaysia. Memang berbeda. Terlebih nasib AirAsia lebih beruntung, karena hanya dalam hitungan jam Tim Sar Indonesia sudah bisa memastikan lokasi bangkai pesawat. Sementara pesawat Malaysia Air sampai sekarang tak ditemukan.

Selain Tony, sebenarnya ada banyak rakyat Malaysia dan Singapore yang juga suka dengan kepemimpinan Jokowi. Media tetangga sempat riuh karena Jokowi datang ke Singapore dengan pesawat ekonomi, datang sebagai pribadi, bukan sebagai Presiden Indonesia. Mereka menilai ini contoh Presiden yang baik, bisa membedakan urusan negara dan pribadi. Tapi memang yang pernah berurusan langsung dengan Jokowi mungkin hanya Tony Fernandez ini. Sehingga beliau bisa merasakan bagaimana sikap seorang Jokowi.

Penampilan Paspampres

Sejak Presiden Jokowi dilantik, Paspampres diminta berpakaian yang lebih membaur dan ramah dengan masyarakat. Maka dipilihlah batik lengan panjang celana hitam. Atau kemeja putih, jas dan celana hitam. Ini yang sering kita lihat selama Jokowi menjadi Presiden Indonesia. Termasuk saat aksi 411.

Namun saat aksi 212, paspampres mengenakan seragam aslinya, baju loreng dan baret biru muda. Tentu kita kurang mengerti apa alasannya, tapi sebaiknya memang begitu. Sebab kalau masih menggunakan batik dan jas, kesan sangarnya kurang terasa. Tidak pas kalau untuk menemui massa sebanyak itu, Presiden Jokowi masih meminta Paspampresnya membaur.

Selain baju loreng, ada juga penampakan tas ransel yang dipakai oleh beberapa paspampres. Menurut prediksi dan dugaan banyak orang, itu merupakan alat pendeteksi bom.
Kita tentu patut bersyukur memiliki Presiden seperti Jokowi. Disukai dan dibanggakan oleh banyak orang. Dan tidak berlebihan kalau kita senantiasa berdoa semoga beliau terus diberi kesehatan dan kekuatan ekstra untuk memimpin negeri ini. (maxoroh/berbagai sumber/net)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM