Senin, 18 Juli 2016

Pasokan Listrik Kurang, Layanan Administrasi Publik Terganggu


Kantor Disdukcapil. (bahar sikki/kk)
SANGATTA.KABARKALTIM.CO.ID- Bentuk keseriusan pemerintah mengatasi kelangkaan listrik belum terpecahkan sebagaimana harapan banyak pihak. Buktinya, wilayah Kabupaten Kutai Timur (Kutim), provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) sebagai daerah lumbung energi batubara, dan minyak hingga kini masih dihadapkan pada kondisi kurangnya pasokan listrik. Khususnya di pusat perkantoran Bukit Pelangi, Sangatta sambungan listrik dari PLN (Perusahaan Listrik Negara, Red) belum dirasakan manfaatnya bagi ribuan aparatur serta warga yang bermukim di kisaran kawasan bangunan elit tersebut. Akibatnya, layanan administrasi publik tergangggu.

Hal ini terungkap dalam rapat koordinasi dipimpin Wakil Bupati Kasmidi Bulang di ruang Meranti, kantornya, Bukit Pelangi, Senin (18/7/2016).

Kepala Dinas Kependudukan, dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Yanuar mengungkapkan, kondisi layanan administrasi kependudukan pasca Ramadan belum berjalan normal. Pasalnya, sejak bulan suci Ramadan 1437 H  jadwal layanan kependudukan diubah sementara. Listrik genset usai lebaran idulfitri on pada jam kerja kantor mulai pukul 08.30 Wita. Padahal warga sudah kumpul  menunggu di kantor Disdukcapil pukul 08.00 Wita. “Disdukcapil belum bisa maksimal beri layanan lantaran kendala listrik, serta  kurangnya stok belangko kependudukan. Genset listrik yang ada hanya satu untuk disambutkan ke  kantor Disdukcapil, ke kantor Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana, ke Kantor Badan Ketahanan Pangan, dan ke kantor KPU (Komisi Pemilihan Umum, Red). Untuk kebutuhan listrik tiap ruang kerja tak cukup,” bebernya.


Hal serupa juga terjadi di kantor dinas, badan dalam kawasan pusat perkantoran Bukit Pelangi. Genset listrik untuk kawasan Bukit Pelangi di dekat bundaran pesawat belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan listrik demi kelancaran layanan administrasi di kabupaten yang beranjak usia 17 tahun. Solusi sementara,  kantor dinas atau badan diadakan pemutusan aliran arus bergiliran.

“Ini, potensi masalah besar. Kalau  pemadaman bergiliran. Kalau tiba-tiba SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah,Red) sangat memerlukan arus listrik untuk pelayanan ke masyarakat, dan pada saat yang bersamaan SKPD itu dapat giliran byar pet. Wah, ini bisa tambah kacau,”  jelas Kasmidi Bulang di hadapan pejabat teras Kutim.

Wabup Kutim menginstruksikan kepada pihak Dinas Pertambangan, Bagian Perlengkapan Setkab dan SKPD terkait untuk segera melakukan inventarisasi berapa daya listrik yang diperlukan masing-masing SKPD di dalam kawasan pusat perkantoran Bukit Pelangi. Juga sambungan listrik genset Bukit Pelangi yang dipakai warga sebaiknya ditertibkan.  Satpol PP segera tertibkan itu. “Bagaimana itu. Warga yang mengambil arus dari genset Bukit Pelangi. Saya dengar, ada warga kena iuran bulangan. Tapi saya belum tahu uangnya kemana,” kata Kasmidi Bulang.

Masalah klasik  yang berlangsung belasan tahun ini, sudah berbagai upaya dilakukan pemerintah kabupaten. Namun, soal langkanya listrik masih terjadi. Pengadaan genset untuk listrik tidak memecahkan persoalan. Genset di dekat bundaran pesawat menghabiskan dana  Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) miliaran rupiah untuk pembelian bahan bakar solar. Daya listriknya terbatas, sementara kebutuhan listrik lebih besar. Sehingga SKPD terkait berupaya mengatasi hal tersebut dengan cara menyediakan genset mini untuk khusus satu SKPD. Tapi, lagi-lagi belum tuntaskan masalah. SKPD terkait kesulitan dalam mengadakan BBM.

“Kami sudah punya genset sendiri di masing- masing kantor. Cuma kendalanya, soal biaya bahan bakarnya. Dari mana uangnya. Tidak ada dalam mata anggaran untuk dana pembelian solar. Apalagi, dampak rasionalisasi anggaran sangat signifikan terhadap progres kerja kedepan,” keluh beberapa pimpinan SKPD lingkup pemkab Kutim.

Sesungguhnya, rencana mengatasi kelangkaan listrik di Kutim sejak dahulu sering digembar gemborkan  bupati. Bahkan peresmian peletakan batu pertama sudah dilakukan Awang Faroek Ishak sejak menjabat bupati Kutim. Namun, semua gagal. Peletakan batu pertama   dengan menyembelih sapi jantan yang berlokasi tidak jauh dari Makodim 0909 Sangatta, gagal lantaran soal lahan, serta disebut-sebutkan ada oknum pejabat minta jatah pada investor. “Ini belum operasi. Baru pada tahap kerja awal perencanaan. Tapi sudah ada minta dibantu karena anaknya katanya sekolah di luar negeri,” aku investor yang enggan ditulis namanya.

Begitu pula Pembangkit Listirk Tenaga Gas Batubara (PLTGB) di Kabo Jaya, Desa Swarga Bara, Kecamatan Sangatta Utara hingga kini peralatan mesinnya, ada sudah menjadi besi tua. Dan, ada pula yang sudah hilang dicuri. Lantaran proyek besar itu tersangkut kasus korupsi. Padahal sewaktu peletakan batu pertama ditarget 2009 silam, PLTGB sudah berfungsi. Namun hingga berita ini ditulis masalah PLTGB  Kabo Jaya terkesan tidur pulas. (ri)

Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM