Sabtu, 16 Januari 2016

Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari : Ulama Kharismatik yang Membangun Peradaban Islam di Kalimantan


(CATATAN ANDI AR EVRAI)
 
Andi Ar Evrai
LUKISAN Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari ulama Kalimantan yang berada di museum Lambung Mangkurat Bajar Baru ini memiliki aura yang begitu tajam dan kuatnya, meskipun hanya sebuah lukisan tetapi telah membuat mereka yang berkunjung ke museum terkagum, apalagi selain lukisan tersebut juga ditulis sejarah singkat perjuangan ulama kharismatik yang telah membangun peradaban agama Islam di Kalimantan ini.

Seperti diceritakan dalam sejarah bahwa Syekh Muhammad Arsyad bin Abdullah bin Abdur Rahman al-Banjari, demikian nama ulama ternama asal Kalimantan yang kiprahnya terkenal di seantero nusantara.

Berangkat dari tanah kelahirannya di Martapura, syekh belajar ke tanah kelahiran Islam, Makkah dan Madinah, kemudian pulang menjadi ulama yang mendidik banyak putra bangsa serta mencetak du'at penerus dakwah.

Dia lahir pada 15 Safar 1122 Hijriyah atau bertepatan dengan 17 Maret 1710 Masehi. Menurut beberapa sumber, ia memiliki garis keturunan hingga cucu Rasulullah dari Ali bin Abi Thalib dan Fathimah az-Zahra.

Nenek moyang syekh yang datang ke Tanah Melayu merupakan Abdullah bin Abu Bakar as-Sakran, kakek dari Abdur Rahman al-Banjari. Abdullah pertama kali datang di Filipina dan mendirikan Kerajaan Mindano. Saat perang melawan Portugis, datuk Muhammad Arsyad ini melarikan diri ke Martapura atau Lok Gabang. Di Ibu Kota Kerajaan Banjar inilah, ia menurunkan keturunan hingga lahirlah Syekh Muhammad Arsyad.

Lahir di tengah keluarga beragama, Syekh Arsyad mendapat pendidikan Islam yang baik. Hingga menginjak usia remaja, ia pun berangkat ke Haramain untuk menempa ilmu.

Tak tanggung-tanggung, syekh menghabiskan waktu 30 tahun di Makkah dan lima tahun di Madinah untuk menyempurnakan ilmu agamanya. Tak heran jika kefakihannya tak tertandingi di nusantara saat ia pulang kembali ke kampung halaman.
 
Waktu lama yang Syekh Arsyad habiskan di Tanah Suci membuatnya menjadi murid sekaligus sahabat para masyayikh ternama Saudi. Beberapa di antaranya, yakni Syekh 'Athoillah bin Ahmad al-Mishry, Syekh Muhammad bin Sulaiman al-Kurdi dan Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Hasani al-Madani. Disebutkan pada masa itu, terdapat empat ulama dari Tanah Air yang menuntut ilmu di Haramain.

Selain Syekh Arsyad, terdapat pula Syekh ‘Abdus Shamad al-Falimbani dari Palembang, Syekh Abdur Rahman al-Mashri al-Batawi dari Betawi, dan Syekh Abdul Wahhab Bugis dari Bugis.
Dengan mereka, Syekh Arsyad berteman baik dan menuntut ilmu di Tanah Suci. Keempatnya pun kemudian dijuluki "Empat Serangkai dari Tanah Jawi (Melayu)".

Sepulang dari Tanah Suci, Syekh al-Banjari kemudian pulang ke tanah kelahirannya di Martapura. Dari sana, ia kemudian membangun pendidikan Islam di Kalimantan. Ia memegang peranan penting dalam penyebaran dakwah Islam di sana.

Setelah membuka majelis ilmu, al-Banjari pun kemudian mendidik banyak murid. Dari pengajaran dia, lahir para dai yang kemudian ikut serta dalam mendakwahkan Islam di Kalimantan. Bahkan dikisahkan, saat pulang ke Martapura, al-Banjari disambut dengan upacara adat kebesaran yang dihelat Raja Banjar, Sultan Tamjidillah. Rakyat Banjar mengelukan kedatangan sang syekh yang dianggap sebagai Matahari Agama.

Maksudnya, al-Banjari diharapkan dapat menjadi cahaya agung yang menyinari Kerajaan Banjar. Tak hanya masyarakat, tapi seluruh pihak kerajaan pun mengharapkannya menjadi pembimbing agama mereka.
Harapan tersebut pun tercapai. Al-Banjari pulang dan menyalakan cahaya agama yang menghidupkan masyarakat Banjar.
 
Namun, tak hanya di Kalimantan, dakwahnya pun disambut baik oleh masyarakat di Pulau Jawa. Di Jakarta, yang saat itu masih bernama Batavia, pendidikan al-Banjari diterima dengan antusias. Ia bahkkan pernah mengoreksi arah kiblat beberapa masjid tua di Jakarta, seperti Masjid Pekojan dan Masjid Luar Batang di Jakarta Utara.

Syekh berdakwah di nusantara hingga 50 tahun lamanya. Ia juga memiliki banyak karya yang menjadi media pembelajaran Islam kala itu. Kitabnya yang paling fenomental, yakni Sabil al-Muhtadin. Semua ulama di tanah Melayu menjadikan kitab tersebut sebagai rujukan ilmu. Hampir tak ada satu pun ulama nusantara yang tak mengenal karya beliau tersebut.

"Dia sangat termasyhur dengan kitab Sabilal Muhtadin. Judul kitab yang kini diabadikan menjadi nama masjid terbesar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kitab ini menjadi panduan bagi tak sedikit pengajian keagamaan di Asia Tenggara," tulis artikel mengenai biografi al-Banjari dalam web resmi Disbudparpora Banjar.

Selain Sabil al-Muhtadin, al-Banjari pun menghasilkan karya yang jumlahnya sangat banyak. Meski aktivitas mengajar telah menghabiskan banyak waktunya, syekh menyempatkan menulis kitab untuk menunjang dakwahnya.

Dengan ilmu agama yang mumpuni, al-Banjari tak hanya menulis kitab dalam satu bidang agama. Ia menulis tentang akidah, fikih, tafsir, hadis, dan hampir seluruh cabang ilmu agama.

Setelah menorehkan banyak kiprah bagi Muslimin Tanah Air, bahkan hingga Asia Tenggara, al-Banjari kemudian mengembuskan napas terakhir pada 6 Syawal 1227 Hijriyah atau 3 Oktober 1812 Masehi.

Ia dimakamkan di Desa Kelampaian Tengah, Kecamatan Astambul, yakni berjarak sekitar 15 kilometer dari Martapura. Hingga kini, makamnya sering dikunjungi warga, bahkan menjadi objek wisata religi.Dimana ribuan umat datang berduyun-duyun setiap harinya untuk mendoakan beliau di makam tersebut.
Di dekat makam, dibangun pula sebuah perpustakaan yang menyimpan karya ulama karismatik yang pernah dimiliki Indonesia ini. Berkat perjuangan Syekh Al-Banjari, masyarakat Banjar pun tertata agamanya sehingga menjadi muslim yang taat beribadah dan tanah Banjar pun terkenal dengan tanah santri karena di sini banyak berdiri pesantren-pesantren yang mendidik para calon ulama pejuang agama Islam .(*) 

Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM