Oktober 03, 2015

Gudeg Mendoan Kuliner Balikpapan yang Menawan

BALIKPAPAN.KABARKALTIM.CO.ID - Malam itu saya pulang dari rutinitas saya memberikan materi latihan beladiri taekwondo kepada para siswa tempat saya berlatih di bilangan Gunung Belah Balikpapan Tengah, saya lihat jarum jam di rumah saya menunjukkan angka 11 tepat. " Ogggh... lelah sekali hari ini rasanya", gumam saya sambil merebahkan punggung ini di karpet tipis ruang tidur saya.

Tak terasa perutpun memanggil dengan nyanyian keroncongnya, mendayu-dayu minta diisi. Dan baru sadar bahwa sehari ini nyaris saya belum ketemu nasi. Dan lebih dahsyat lagi, ternyata edisi logistik di dapur hari ini sudah kerontang ludes dikonsumsi angota keluarga saya yang lain. Mungkin lantaran saya kelewat malam pulang ke rumah.


Tak ayal sayapun menyusun strategi cepat untuk segera mengatasi "kemerucuk" di perut saya. Bergegas saya melompat dari tempat baring saya, lalu sambar kunci sepeda motor, dan sejenak saya sudah berkendara menyusur jalanan kampung yang beranjak senyap.

Saat itu saya melintas di kawasan Jalan Ahmad Yani, sekitaran Ex Puskib Balikpapan, perlahan namun penuh dengan ketelitian, saya sibak pintu pintu warung, kedai, dan tempat makan yang sekiranya menarik minat saya untuk singgah.

Dan tak perlu waktu lama, sekelebat mata saya tertambat pada sebuah tempat bercahaya lebih terang dibanding tempat sekitarnya. Banner bercorak tegas bertuliskan "Gudeg Mendoan" melatar belakangi menutup halaman toko yang memang tutup operasi di malam hari.  Di situlah akhirnya pencarian saya berakhir.

Saya awali dengan pesan menu pilihan makan di tempat, seporsi nasi gudeg lengkap dengan lauk dan tuangan kuah kental pun tersaji di depan saya. Tak perlu waktu lama, nikmatnya nasi gudeg pun berpindah sudah ke perut saya.

Entah karena lapar yang cukup panjang saya alami hari itu, namun yang jelas kenikmatan masakan gudeg, lembutnya kuah santan kental dan gurihnya daging ayam kampung serta telur bebek pindang itu memang layak mendapatkan nilai sempurna bagi saya.

" Mak Nyussss...., Mantap Surantap" gumam saya meminjam seloroh Pak Bondan sang pakar kuliner yang terkenal itu.

Sejenak menikmati rasa kenyang, ditemani sebatang rokok, saya sempatkan berbincang dengan Bapak paruh baya yang ada di dekat saya, yang ternyata adalah Pak Suida pemilik kedai tersebut. Kamipun terlibat obrolan santai yang akrab dan penuh keramahannya. Tak saya sia-siakan, kesempatan itu saya manfaatkan untuk ajang wawancara, tentunya setelah basa basi dan berkenalan.., "haha.. dasar kuli tinta", batin saya sendiri.

Berikut saya sajikan dalam bentuk tanya jawab tentang apa dan siapa Gudeg Mendoan, Kuliner mantap ini.

Kabar Kaltim (KK), Pak Suida (PS).

KK : Selamat malam pak...

PS : Malam mas, tambah lagi ya minumnya?

KK : Boleh Pak Suida.

KK : Sudah lama ya pak berdagang makanan?

PS : Kalau di tempat ini baru jalan dua minggu mas, Kalau di Balikpapan sejak 2013, tapi kalau kapan mulai jualan gudeg saya sudah sejak tahun 1986.

KK : Waah, lama sekali itu Pak, layak tuh dilabeli senior, hahaha...

PS : Haha...iya Mas, dulu saya mulai berjualan makanan dengan konsep kaki lima ini di Purwokerto Jawa Tengah, lalu sempat hijrah ke Ibukota (Jakarta), dan sekarang di Balikpapan.

KK : Pasti sebuah perjalanan yang panjang dan penuh lika-liku perjuangan ya Pak?

PS : Betul Mas..., memang diperlukan mental tahan banting dalam menjalani usaha, apapun itu usahanya.

KK : Dulu awal di Balikpapan ini bagaimana Pak?

PS : Cukup Panjang juga Mas, tapi singkatnya dulu saya awali dengan menggelar lapak di Lapangan Merdeka, di awali dengan di usir satpam dan dipalak oknum yang katanya pengelola, wah cukup menguras energi deh untuk melewati masa itu.
Tapi akhirnya perjuangan berbuah manis, sekarang sekalipun saya tak pernah absen hadir di Lapangan Merdeka untuk hari Sabtu dan Minggu.

KK : Ini outlet ke berapa ya Pak?

PS : Kalau Lapak yang eksis, ini tempat jualan yang ke tiga, pertama yang di Lapangan Merdeka, kemudian Kedua di Jalan Gn. Guntur, nah inj yang Ketiga. Namun ada lagi satu outlet yang mobile berpindah pindah, yaitu pakai mobil, keliling kota, kalau ada yang mau beli ya mobil berhenti, atau bisa telpon ke nomor yang tertera di situ.

KK : Luar biasa Pak, sekarang sudah bisa menikmati hasil enak ya Pak, lalu berapa kira-,kira omset harian per outlet nya Pak?

PS : Yaaa, memang tidak tentu, namanya dagang ya kadang rame kadang sepi, tapi rata-rata per hari, untuk yang di Lapangan Merdeka saja, saya bisa dapat 6 juta per sekali jualan, pernah saya pecahkan rekor puncak dengan omset 18 juta per sekali jualan, waktu itu pas ada acara artis di panggung hiburan.

KK : Hahaha, bukan lagi lawan Karyawan meskipun sekelas Manager itu ya Pak..., Lalu menurut Bapak, apa sih kelebihan dari produk olahan Bapak ini?

PS : Yang pasti, setelah saya observasi dan survey mengenai produk kuliner olahan saya ini, saya terapkan pembeda untuk saya persembahkan kepada para penikmat makanan ini, saya usung tagline "Enak, Murah, Bersih"

KK : Setuju saya Pak, memang sesuai dengan apa yang Bapak tagline kan itu. Ngomong-ngomong adakah kendala paling di rasakan saat ini Pak?

PS : Kendala berarti sih tidak terlalu signufikan, meskipun tidak bisa juga saya katakan tidak ada, tentu ada, dan beberapa kali pernah saya mengalami krisis bahan baku, yaitu langka nya buah nangka muda, pernah saya alami di Balikpapan ini sama sekali tidak saya temukan nangka muda, hingga akhirnya saya harus umpor dari Jawa, bahkan pernah di Jawa pun sulit di dapat.

KK : Lalu bagaimana mengatasi problem itu Pak?

PS : Memang pembelajaran dan pengalaman mengalahkan segalanya, Kita jadi pintar karena tempaan keadaan, dalam situasi sulit, malah saya dapatkan ilmu baru. Pernah Gudeg saya ini saya pakai bahan baku bukan nangka muda, tapi buah cempedak... Awalnya agak aneh, dan rasanya pun jadi lain, namun karena bertambahnya pengalaman dan pengetahuan, maka rasanya tak lagi ada bedanya mana nangka muda mana cempedak. Itulah mengapa saya tidak tuliskan pada produk saya ini Gudeg nangka atau gudeg Jogja atau gudeg lainnya, cukup saya tulis Gudeg Mendoan saja.

KK : Memang hebat Bapak ni. Tapi ngomong-ngomong kenapa kok pilih produk nya gudeg dan mendoan ya Pak?

PS : Hahaha, itu setelah sebelumnya saya survey dulu mas. Di Balikpapan ini penjual gudeg dan mendoan tidak lebih hitungan jari sebelah tangan saja, dan saya kebetulan memang bisa masak, ya gudeg ini salah satunya yang saya kuasai.

KK : Menurut Bapak, apa saja resep rahasia menjadi sukses dalam usaha kuliner ini Pak?

PS : Yaaa, namanya rahasia ya, tapi untuk berbagi gak perlu rahasia-rahasiaan lah ya.
Yang pasti siaplah untuk jatuh, dan siaplah untuk bangun lagi. Kemudian buatlah pembeda dan kelebihan cara atau produk yang kita akan tampilkan, kemudian jadilah orang yang berilmu di bidangnya. Orang bilang, kalau kamu punya bengkel dan gak mau dibohongi mekanikmu, maka kamupun harus ngerti mesin, begitu juga ketika saya buka usaha makanan, setidaknya sayapun harus bisa masak.

KK : Dari mana dulunya Pak keahlian masak yang Bapak punya?

PS : Pertama karena memang saya suka masak, tapi memang ada juga mungkin hubungannya, dari keluarga besar saya, sayalah anak laki-laki satu-satunya, sementara semua saudara saya perempuan. Lain itu kecilan saya dulu sering diajak Ibu saya lagan (memasak di tempat orang hajatan), jadi ya mau gak mau saya paham dan mengerti bagaimana itu memasak.

KK : Apa ni Pak saran Bapak untuk para generasi muda dan masyarakat Balikpapan?

PS : Saya juga pernah muda, jadi kalau ditanya soal anak muda, saya hanya bisa berpesan, teruslah berusaha selama kamu belum berhasil, banyaklah menimba ilmu, dan jangan pernah menyerah dengan keadaan. Untuk masyarakat, menurut saya, banyak berbagi dan bersahabat dengan sesama itu sangatlah penting. Pasti rejeki kita akan dilimpahkan dengan pertemanan yang banyak.

KK : Baiklah kalau begitu Pak..., rasanya obrolan kita sudah cukup panjang lebar, dan apa yang Bapak sampaikan sangat menginspirasi saya, lain waktu kita sambung lagi ya Pak, saya pamit dulu.

PS : Iya Mas, terimakasih sudah mau singgah, jangan sungkan untuk datang kemari.

Saya pun bergegas pulang, setelah sebelumnya berterimakasih dan membayar makanan yang saya santap tadi, namun Pak Suida menolaknya meskipun sudah saya paksa, "Rejeki..." batin saya.

Sesampai di rumah, saya tuangkan apa yang saya bincangkan dengan Pak Suida tadi melalui tulisan ini untuk pembaca Kabarkaltim.co.id sekalian.

Kalau pembaca kebetulan lewat Jaan Ahmad Yani depan Ex Puskib pada malam hari antara jam 7 sampai jam 1 malam, maka tak ada salahnya mencoba kuliner mantap olahan Pak Suida, cari saja Lesehan bertajuk " Gudeg Mendoan". (jp)


Baca Juga :

1 komentar:

  1. saya suka gudeg, menarik sekali, artikel ini sangat bagus, sangat bermanfaat, terimakasih , anda juga dapat mengunjungi
    http://indonesia.gunadarma.ac.id untuk mendapatkan
    informasi serupa

    BalasHapus


Follow Kami

NEWS UPDATE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM