April 20, 2020

TERDAMPAK CORONA, MAHASISWA SEBATIK DI YOGYA KESULITAN MEMENUHI KEBUTUHAN HIDUP


Mahasiswa asal Sebatik-Nunukan yang menempuh pendidikan di Yogyakarta (ist/kk)
NUNUKAN, KABARKALTARA.CO.ID - Malaysia resmi memperpanjang masa lock down hingga 28 April 2020, yang semula penetapan lock down Malaysia berakhir pada 14 April 2020. Kondisi ini berdampak pada mahasiswa yang orang tuanya bekerja di Malaysia, dan masih berada di Malaysia.
Hafis adalah salah satu dari sepuluh mahasiswa yang orang tuanya berstatus TKI di Kota Tawau, Sabah, Malaysia. Orang tua Hafis berasal dari Sebatik Kabupaten Nunukan. Sementara Hadis kini tengah menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta.
Hafis menuturkan, di tengah kondisi Malaysia yang me-lock down total keseluruhan wilayahnya turut membuatnya mendapat kesulitan di ranah rantau. Salah satu kesulitan yang dia dan teman-teman senasibnya rasakan, adalah orang tua yang tidak bisa mengirim uang untuk biaya keperluan sehari-hari selama di Yogyakarta. 
“Kurangnya biaya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari makanan ataupun kuota internet yang digunakan untuk mengirim tugas,” tutur Hafis ketika ditemui di sekretariat Himpunan Keluarga Mahasiswa Sebatik di Yogyakarta, Minggu (19/4/2020).
Tidak hanya biaya untuk keperluan sehari-hari, biaya untuk melunasi uang perkuliahan juga mereka harus meminta dispensasi dari pihak kampus akibat kesulitan ini.
“Untuk biaya kampus, kemarin sudah kami minta dispensasi dari pihak kampus, dan alhamdulillah pihak kampus merespon itu dan mengkhususkan untuk kami,” lanjutnya. 

Untuk menutupi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari, mereka menghemat pengeluaran dan berpatungan untuk membeli makanan yang dapat mereka makan kesehariannya.
“Lebih menghemat dalam penggunaan uang, dikarenakan orang tua yang bekerja di Malaysia, tidak diperbolehkan untuk keluar rumah dan seluruh kantor pengiriman uang pun sudah ditutup,” tutup Hafis.
Terkait keresahan mahasiswa asal Sebatik terutama mahasiswa yang orang tuanya menjadi TKI, juga dikonfirmasi oleh Nasrul Basri selaku Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Sebatik di Yogyakarta. Saat ini mereka berharap ada respon dari pemerintah, dan besar harapan jika pemerintah dapat turun tangan membantu mahasiswa-mahasiswa yang masih tinggal di perantauan.
“Yah, meskipun keadaan kami di sini masih bisa bertahan, tetapi sama saja, kesulitan masih kami rasakan di sini selama wabah ini. Kami tidak pulang bukan karena tidak ingin, tetapi kami juga cukup khawatir bahwa bisa saja bibit virus ini masuk ke daerah kami melalui kami dan itu sangat berisiko. Lagi pula sudah ada juga imbauan dari Sultan Hamengkubuwono X selaku kepala pemerintah daerah di sini, agar tidak mudik untuk semntara waktu. Saya berharap pemerintah daerah kita di sana bisa memberikan bantuan kepada teman-teman yang kesulitan di daerah rantauannya, terutama kepada teman-teman yang orang tuanya berstatus TKI di Tawau. Mereka sangat merasakan sekali kesulitan ini,” ujar Nasrul. 
Dari data yang diperoleh Himpunan Mahasiswa Sebatik di Yogyakarta, hingga saat ini terdapat 27 mahasiswa asal Sebatik-Nunukan yang masih berada di Yogyakarta.(*/yasir/tim kk)
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM