Sabtu, 15 Juli 2017

Tentang Penanggulangan Radikalisme, Amerika Ingin Belajar dari Indonesia

Foto Ilustrasi [maxor/kabarkaltim.co.id]
KABARKALTIM.CO.ID - Sebelum pertemuan G20 di Jerman beberapa hari lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sudah menyampaikan pesan terang benderang bahwa dia ingin bertemu langsung dengan Presiden Indonesia Joko Widodo, untuk mengetahui tentang cara menanggulangi radikalisme. Hal tersebut diperjelas dan menjadi lebih nyata sewaktu kedua presiden bertemu dalam perhelatan G20 di Hamburg, Jerman. Sebelumnya Presiden Donald Trump telah terkesan dengan usulan dan penjelasan Presiden Jokowi sewaktu menjadi pembicara dalam pertemuan negara-negara Islam dan Amerika Serikat di Arab Saudi beberapa waktu sebelumnya.

Implementasi dari keinginan Presiden AS tersebut kini mulai ditindak lanjuti oleh pejabat tinggi kedua negara, Indonesia - AS. Dan hal itu juga dipertegaskan kembali oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir yang mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia mampu menanggulangi radikalisme dan terorisme tanpa pertumpahan darah yang terjadi. Karena inilah, Amerika Serikat akan belajar kepada Indonesia soal bagaimana cara menanggulangi terorisme dan radikalisme.

Menristekdikti Mohammad Nasir
"Tiga hari yang lalu kami komunikasi dengan kepala BNPT yang mewakili Indonesia di Amerika Serikat. Amerika akan belajar bagaimana cara menanggulangi terorisme dan radikalisme. Amerika juga gerah dengan hal ini dan mereka ingin belajar bagaimana Indonesia mampu menanggulangi tanpa melalui tumpah darah," ungkap Mohammad Nasir dalam sambutannya pada kegiatan Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta di Jawa Barat, yang bertempat di Universitas Padjajaran Bandung, Jumat (14/7).

Karena kata Menristekdikti, Indonesia mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang mampu menjaga kesatuan dan persatuan Republik Indonesia.

"Saya percaya Bhinneka Tunggal Ika apapun agamanya, apapun sukunya, apapun kelompoknya tetap satu untuk Indonesia yang bisa menjaga dengan baik," katanya.

Menurut Mohammad Nasir, bukan hanya permasalahan radikalisme yang harus diwaspadai, akan tetapi narkoba pun menjadi permasalahan utaama di Indonesia hari ini.

"Dua hari yang lalu yaitu masalah narkoba, ada narkoba yang masuk ke Indonesia satu ton yang nilainya adalah Rp1,5 Trilliun. Berasal dari China masuk ke Taiwan. Dari Taiwan masuk ke Malaysia dan dari Malaysia masuk ke Indonesia," jelasnya.

Sebab itu, kita harus bersama-sama melawan radikalisme, terorisme, dan narkoba di Indonesia.

"Tidak hanya anti radikalisme, anti terorisme, juga anti narkoba untuk Indonesia. Dan harus kita hindari masalah-masalah seperti ini untuk Indonesia masa depan yang lebih baik," tandasnya. [*\maxor]
Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM