Selasa, 30 Mei 2017

Polri dan Masyarakat Siap Tangkal Terorisme dan Radikalisme


#KamiTidakTakut, #AntiRadikal

oleh Priyo Suwarno


(foto net)
PERTAMA-tama kita menyampaikan ucapan selamat kepada umat Muslim yang sedang melaksanakan ibadah puasa. Semoga pengampunan dan anugerah dari Allah SWT selalu berlimpah kepada kita semua. Kedua, kita patut bersyukur di bulan suci ini, suasana keamanan di Indonesia semakin kondusif  meskipun sebelumnya kita mendapatkan cobaan yang luar biasa atas insiden luar biasa: bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta.

Untuk memberikan penjelasan tentang kasus bom bunuh diritu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian memberikan penjelasan gambling dan terinci dalam sebuah wawancara eksklusif di Kompas.TV. Mengapa Kapolri harus turun langsung menjelaskan insiden itu? Karena pasca-ledakan bermunculan ‘serangan lain’, berupa banjir postingan dari warganet yang beropini bahwa bom bunuh diri itu rekayasa: Polisi.



(foto net)
Dalam kasus bom Kampung Melayu, polisi dan masyarakat Indonesia ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, wajahnya tersiram cat. Sungguh pilu dan penuh penderitaan lahir batin. Pilu, karena bom bunuh diri itu menyebabkan tiga polisi gugur.

Mengapa polisi jadi sasaran? Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menjelaskan alasan polisi menjadi sasaran utama berbagai teror bom, karena doktrinnya begitu. Termasuk yang terjadi di terminal Kampung Melayu, Rabu (24/5/2017) malam lalu.

Pelaku bom di Kampung Melayu oleh Kapolri merupakan ulah kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dipimpin Aman Abdurrahman dan berafiliasi kepada Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Tito menjelaskan, doktrin pertama yang dianut para teroris yang berkiblat kepada ISIS adalah tauhid wal jihad, serta komponen eks militer Saddam Hussein yang dibubarkan. Sehingga ideologi yang dibawa oleh mereka tauhid wal jihadnya adalah Takfiri.

(foto net)
Aliran tauhid wal jihad di Indonesia dipimpin oleh Aman Abdurrahman pada tahun 2003 pada saat terjadi ledakan di Cimanggis, Jawa Barat. Pendukung utama dari tauhid wal jihad di Irak yang dipimpin oleh abu Muhammad Maqdisi, juga mengusung ideologi Takfiri, yang konsep utamanya adalah Tauhid, yaitu segala sesuatu harus berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT.

Tito menyebutkan, paham ini menyebabkan konsep pemikiran bahwa mereka yang tidak sesuai dan tidak berasal dari Tuhan, dianggap haram atau kafir, sehingga mereka menentang demokrasi Pancasila, karena dianggap kafir atau kufur. Sehingga pendukung ideologi ini menganggap tentara Indonesia dan Polri sebagai thagut (setan). Mereka juga mencap siapapun yang tidak sealiran adalah kafir.

Kafir, menurut Kapolri, dibedakan menjadi dua jenis oleh para penganut paham ini. Kafir harbi, adalah kafir yang dianggap atau dianggap memusuhi dan menyerang mereka. Sedangkan kafir kafir dzimi adalah yang tidak menyerang mereka, tapi harus tunduk kepada mereka. Nah, Polri bagi mereka dianggap sebagai kafir harbi.

Tetapi bagi Tito tiga personel Sabhara Polri yang gugur dalam aksi bom bunuh diri di Kampung Melayu, mati syahid. Mereka wafat, gugur dalam keadaan syahid. Karena mereka gugur saat  sedang melaksanakan tugas demi mengamankan masyarakat dan kepentingan umat manusia. Tiga polisi yang gugur, yakni Bripda Taufan, Bripda Ridho Setiawan dan Bripda Imam Gilang Adinata. Kepada mereka pun diberikan anugerah berupa kenaikkan pangka luar biasa.

Korbannya bukan hanya polisi, sedikitnya lima warga masyarakat umum menjadi korban keganasan bom itu yakni Agung (sopir Kopaja), Damai Sihaloho (sopir Mikrolet), Tasdik (karyawan Bank Mandiri), Susi Afitriyani (mahasiswi) dan Jihan (mahasiswi).

Kapolri menyatakan turut berduka cita mendalam atas jatuhnya korban, baik yang meninggal dunia maupun korban luka. Bukan hanya keprihatinan polisi saja, tetapi keprihatinan bagi seluruh bangsa Indonesia, ternyata ada orang Indonesia begitu tega melakukan perbuatan nista yang membawa kesengasaan bagi bangsa dan negaranya secara keji.

Polisi mahfum benar bahwa aktivitas radikalisme di Indonesia masih terus eksis, mereka selalu ingin menunjukkan keberadaannya dengan mempertontonkan kengerian, kesadisan tanpa perikemanusiaan untuk melahirkan ketakutan dimana-mana. 

Mantan Ketua PP Muhammadiyah Buya Syafii Maarif mengaku risau merisaukan teologi maut yang berkembang di Indonesia. Teologi maut adalah sebuah teologi yang mengajarkan bahwa berani mati tapi tidak berani hidup. Karena teologi maut itu beberapa negara terimbas, mulai dari Suriah sampai Iraq.

Suriah, Iraq, Libya hancur dan Mesir tidak karu-karuan, Afghan juga menyedihkan.
Kemudian berkembang juga sebuah teologi memonopoli kebenaran. Di luar mereka dianggap  salah. Jelas tantangan di depan mata bangsa Indonesia, kita sedang berada di sebuah pusaran maut yang jelas-jelas bakal menyengsarakan kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini.

Tidak salah bila rentetan serangan peledakan bom dari Bali, Marriot, Thamrin, Bandung dan lain-lain itu tidak lain adalah upaya menggantikan ideologi bangsa Indonesia. Analisis ini semakin benar, karena pasca-peledakan di Kampung Melayu, meski bom sudah selesai tetapu perang medson terus berlangsung.

Postingan di medos oleh kawanan pelaku peledakan bom Kampung Melayu, sudah menyiapkan strategi lain, yaitu melambungkan efek domino agar kegerian, getaran dan kesengesaraan ini benar-benar bisa menjadi momok bagi bangsa Indonesia. Kedua, dimunculkan pseudo-analisis-analisis, boleh juga analisis abal-abal sebagai taktik penyesatan yang secara secara terus menerus dan massif disebarkan ke media sosial. Isi analisis itu seolah-olah –menggunakan data dan fakta yang dibuat-buat, bahwa peledakaan Kampung Melayu merupakan rekayasa aparat keamanan.

Tujunnya jelas mendiskriditkan aparat keamanan, masyarakat dibuat simpati kepada pelaki bom bunuh diri, sekaligus membuat opini positif terhadap perbuatan kejahatan terhadap umat manusia itu. Mereka membuat opini seolah-olah pelaku adalah pahlawan, sementara polisi menjadi obyek penistaan. Pelaku banyak, jaringan ini jelas sudah mempunyai pasukan medsos dan siap melakukan perang opini di dunia maya.

Tidak bisa dibiarkandan harus dilawan. Kita semua bersyukur, ternyata warga masyarakat Indonesia faham dan mengetahui cara-cara licik ini yang secara sengaja untuk mengaburkan persoalan sesungguhnya. Terbukti, muncul gerakan masyarakat dengan tagar #KamiTidakTakut! Serta #AntiRadikalisme melakukan perlawanan semesta di dunia maya.

Masyarakat faham bahwa serangan teroris itu nyata-nyata untuk mengacaukan keamanan Indonesia. Mereka melakukan perlawanan di medsos untuk mengahalau dan mereduksi efek negatif kasus bom bunuh di Kampung Melayu. Perlawanan ini membuahkan hasil, serangan opini negative terhadap aparat keamanan mulai surut karena masyarakat peduli terhadap bahaya yang ditimbulkan.

Lebih dari itu efek bom bunuh diri itu juga sudah melembik, tidak bergema dan berlalu begitu saja. Sementara polisi terus membongkar seluruh jaringan yang terkait dengan para pelaku. Selain menungakap tuntas jati diri pelaku, kini Polri khususnya Densus 88 terus bergerak menangkapi jaringan pelaku bom bunuh diri.

Teroris memang mempunyai ruang gerak bebas kapan dan dimana saja tanpa menghiraukan aturan, sementara Polri bergerak berdasarkan aturan dan undang-undang. Akibatnya jika terlalu cepat menangkapi calon pelaku terror pun, dianggap melakukan tindakan sewenang-wenang, sebaliknya lambat menangani dan terjadi korban jiwa, polisi juga dianggap kurang tanggap dan tidak peka dan selalu kebobolan.

Selain dukungan dari masyarakat, Polri masih membutuhkan satu lagi paying hukum di dalam menagani teroris lewat perubahan UU Teroris yang sudah lama menggendap di DPR. Kita semua berusaha agar, payung hukum baru ini membuka peluang lebih besar bagi Polri untuk melakukan tindakan pencegahan agar teroris tidak berkembang dan merajalela di Indonesia. (*)

Baca Juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

NEWS UPDATE

SPACE AVAILABLE

POPULER

INFO LOWONGAN KERJA

JADWAL PENERBANGAN BANDARA SAMS SEPINGGAN BALIKPAPAN

INFO CUACA KALTIM